Selasa, 01 Februari 2011

Membina Angkatan Mujahid

MEMBINA ANGKATAN MUJAHID

Buku ini berisi bagaimana menghayati Risalah Ta’alim yang merupakan salah satu peninggalan paling berharga Hasan Al-Banna. Juga merupakan buah pandangan yang bernas dan jitu terhadap perjalanan sejarah, realitas umat dan pemahamannya yang akurat tentang nash-nash syariah, dan terkandung pula nilai filosofi yang teramat dalam. Dari sinilah Sa’id Hawwa merasa perlu untuk menyusun buku ini sebagai sejarahnya.

Pada bab-bab awal, penulis terlebih dahulu membedah jati diri gerakan jamaah Ikhwanul Muslimin (IM). Bab berikutnya memahami tujuan IM, yakni tujuan akhirnya adalah Tegaknya Daulah Khilafiah Islamiyah, serta dunia seluruhnya hanya tunduk kepada ALLAH SWT, kemudian dijelaskan sarana-sarana untuk mencapai tujuan tersebut.

Bab selanjutnya yang paling penting, yakni Risalah Ta’alim dan sendi-sendi pembentukan pribadi Islam, yang terdiri dari dua bagian, bagian pertama rukun bai’at, kemudian diiringi dengan kewajiban-kewajiban seorang Mujahid. Gerakan IM didirikan oleh Hasan Al-Banna di Mesir pada tahun 1928. Keberadaan IM sesungguhnya menuntut pembaharuan Islam, baik di bidang ilmu, amal maupun realitasnya. Kelangsungannya di sisi lain juga membangkitkan permusuhan kepada Islam. Atas dasar itulah, demi Islam, wujud dan kelangsungannya, harus lahir gerakan yang dapat mewujudkan cita-cita Islam. Semua itu merupakan kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Orang-orang muslim yang sering bertanya, “Untuk apa Ikhwanul Muslimin (IM)?” hendaknya bertanya, “Apa yang akan terjadi tanpa Ikhwanul Muslimin?

Rasulullah SAW bersabda kepada Hudzaifah,”Hendaklah kamu komitmen bersama jamaah kaum muslimin dan imamnya”.(HR. Bukhari Muslim).

Salah satu prinsip dasar yang tidak boleh diabaikan oleh seorang muslim adalah bahwa umat Islam harus mempunyai jamaah dan imam. Kewajiban utama setiap muslim ialah memberikan kesetiannya kepada jamaah dan imamnya. Inilah kunci pertama untuk memahami persoalan Ikhwanul Muslimin (IM). Sungguh, gagasan tentang jamaah Islamiyah telah dilupakan oleh banyak orang, dan jalan yang benar untuk menuju ke sana pun telah hilang. Maka Allah SWT, menganugrahkan nikmat-Nya kepada Imam Hasan Al-Banna untuk meretas jalan yang sempurna, menuju terwujudnya jamaah dan imamah berlandaskan berbagai faktor yang dibutuhkan, untuk tujuan tersebut dan tindakan nyata untuk mencapainya.

Tanggung jawab terbesar kita adalah melakukan tajdid (pembaharuan) dan naql (alih generasi), yakni pembaharuan ajaran Islam dan proses perubahan terhadap pribadi muslim dari satu kondisi ke kondisi yang lain, dan perubahan umat Islam dari satu fase ke fase yang lain.

1. Tentang Ikhwanul Muslimin (IM), melalui penjelasan Ustadz Hasan Al-Banna, didapati dua fenomena: Pertama, Ikhwan sebagai sebuah jamaah yang memusatkan perhatian pada pelayanan umum. Ia ikut bersama-sama dengan semua jamaah Islam yang ada untuk berkhidmat kepada masyarakat umum dengan berbagai sarana; Kedua, Ikhwan sebagai sebuah gerakan pembaharuan. Hasan Al-Banna telah memfokuskan perhatiannya pada fenomena yang kedua ini, karena aspek inilah yang terpenting. Diantara fenomena pembaharuan dalam gerakan ini ialah Ikhwan memahami betul berbagai kebutuhan amal Islami

Dewasa ini, yang selama ini diabaikan oleh umat Islam sendiri. Islam memerlukan gerakan yang menyeluruh, yang menjadikan seorang muslim biasa merasakan bahwa dirinya muslim, merasakan bahwa kita hidup bersama-sama, juga merasakan keterikatan secara umum dengan Islam dan kaum muslimin, serta merasakan pula ikatan khusus dengannya.

2. Mengubah umat sebagai prolog dari proses mengubah dunia. Tanggung jawab pertama Jamaah atau pimpinanya adalah mengubah kondisi pribadi muslim dan selanjutnya kaum muslimin. Orang muslim kini lemah rasa keIslamannya dan lemah pula emosi penisbatan dirinya kepada Islam, selain itu juga lemah perasaannya bahwa ia adalah bagian dari umat Islam. Karena itu, pekerjaan pertama kita adalah membangkitkan perasaan muslim tentang eksistensi keislamannya dan eksistensi kejamaahannya.

Dalam Risalah Ta’alimnya, Hasan Al Banna menyatakan,”Adapun tingkatan amal yang dituntut dari seorang akh yang tulus adalah:

1. Perbaikan dirinya sendiri, sehingga menjadi orang yang kuat fisiknya, kokoh ahlaknya, luas wawasannya, mampu mencari penghidupan, selamat akidahnya, benar ibadahnya, pejuang bagi dirinya sendiri, penuh perhatian akan waktunya, rapi urusannya, bermanfaat bagi orang lain. Itu semua harus dimiliki oleh masing-masing al-akh.

2. Pembetukqan Keluarga Muslim, yaitu dengan mengkondisikan keluarga, agar menghargai fikrahnya, menjaga etika Islam dalam setiap aktifitas kehidupan rumah tangganya, memilih istri yang baik dan menjelaskan kepada hak dan kewajibannya, mendidik anak-anak dan pembantunya dengan didikan yang baik, serta membimbing mereka dengan prinsip-prinsip Islam.

3. Bimbingan masyarakat, yakni menyebarkan dakwah, memerangi perilaku yang kotor dan mungkar, mendukung perilaku utama, amar ma’ruf, bersegera mengerjakan kebaikan, menggiring opini umum untuk memahami fikrah Islamiyah, dan mencelup praktek kehidupan dengannya terus menerus. Itu semua adalah kewajiban yang harus ditunaikan ol;eh setiap akh sebagai pribadi, juga kewajiban bagi jamaah sebagai institusi yang dinamis.

4. Pembebasan Tanah Air dari setiap penguasa asing – Non Islam – baik secara politik, ekonomi maupun moral.

5. Memperbaiki keadaan pemerintah, sehingga menjadi pemerintah Islam yang baik, dengan begitu ia dapat memainkan perannya sebagai pelayan umat, dan pekerja yang bekerja demi kemaslahatan umat. Pemerintah Islam adalah pemerintah yang anggotanya terdiri dari kaum muslimin yang menunaikan kewajiban-kewajiban Islam, tidak berterang-terangan dengan kemaksiatan, dan konsisten menerapkan hukum-hukum serta ajaran Islam. Tidak mengapa menggunakan orang-orang Non Muslim, jika keadaan dalam keadaan darurat, asalkan bukan untuk posisi jabatan strategis. Tidak terlalu penting mengenai bentuk dan nama jabatan itu, sepanjang sesuai dengan kaidah umum dalam sistem undang-undang Islam, maka diperbolehakan.

Beberapa sifat yang dibutuhkan antara lain: rasa tanggung jawab, kasih sayang kepada rakyat, adil terhadap semua orang, tidak tamak terhadap kekayaan Negara, dan ekonomis dalam penggunaannya.

Beberapa kewajiban yang harius ditunaikan antara lain: menjaga keamanan, menetapkan undang-undang, menyebarkan nilai-nilai ajaran, mempersiapkan kekuatan, menjaga kesehatan, melindungi keamanan umum, mengembangkan investasi dan menjaga kekayaan, mengokohkan mentalitas, dan menyebarkan dakwah.

Beberapa haknya, tentu jika telah ditunaikan kewajibannya, antara lain: loyalitas, dan ketaatan, pertolongan terhadap jiwa dan hartanya. Apabila ia mengabaikan kewajibannya, maka berhak atasnya nasehat dan bimbingan, lalu jika tidak ada perubahan, dapat diterapkan pemecatan dan pengusiran. Tidak ada ketaatan kepada mahluk dalam bermaksiat kepada Khaliqnya.

6. Usaha mempersiapkan seluruh asset negeri di dunia ini untuk kemaslahatan Islam; dengan cara membebaskan seluruh negeri, membangun kejayaannya, menegakkan peradabannya, dan menyatukan kata-katanya, sehingga dapat mengembalikan kewajiban khilafah yang telah hilang, dan terwujudnya persatuan umat yang diimpi-impikan bersama.

7. Penegakan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam di seantero negeri.Dijelaskan oleh Hasan Al-Banna, bahwa Gerakan Jamaah Ikhwanul Muslimin (IM) memiliki tujuan pertama, yaitu membentuk individu muslim, dengan sarananya, berupa murabbi (Pembina), manhaj (sistem), dan lingkungan yang sehat.

Tujuan kedua adalah terwujudnya rumah tangga muslim, dengan saranasarananya antara lain: 1.Setiap akh harus memberikan perhatian yang besar terhadap persoalan rumah tangganya; 2. Jamaah harus memberikan hak sewajarnya bagi aktifitas wanita; 3. Setiap akh harus memiliki istri yang shalihah; 4. Setiap akh seyogyanya diikat dengan anak-anaknya dan saudara-saudaranya.

Tujuan ketiga adalah terwujudnya masyarakat muslim. Ustadz Hasan Al-Banna melihat, bahwa pelaksaan totalitas Islam amat sulit dilakukan tanpa memfokuskan perhatian terlebih dahulu pada pembentukan masyarakat muslim. Pemerintah Islam tidak akan tertegak di atas kehampaan. Ustadz Hasan Al-Banna berkata,”Akan tetapi Ikhwan lebih sadar dan lebih memahami untuk tidak memikul tanggung jawab pemerintahan dalam keadaan umat seperti sekarang ini. Kita membeutuhkan waktu, agar prinsip-prinsip Ikhwan dapat tersebar dan masyarakat belajar bagaimana mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi”.

Tujuan keempat adalah menegakkan pemerintahan Islam di setiap negeri. Ustadz Hasan Al-Banna menandaskan, bahwa pemerintahan Islam bukanlah merupakan tujuan Ikhwan sebagai perwujudan atas ambisi para anggotanya. Tetapi tujuan Ikhwan adalah ingin mewujudkan pemerintahan Islam, kapan pun ia terwujud, maka anggota Ikhwan siap menjadi pasukan dan pembelanya, pembela undang-undang, pemerintahannya, dan pemimpinnya, kapan pun dan dimana pun ia berada.

Tujuan kelima adalah terwujudnya negara Islam inti atau menurut redaksi Ustadz Hasan Al-Banna adalah, “Negara yang memimpin negara-negara Islam lainnya, yang menggabungkan semua umat islam, yang mengembalikan keagungannya, serta mengembalikan tanah airnya yang telah hilang dan negerinya yang telah dirampas orang”. Adapun sarana yang paling efektif untuk ini adalah dengan menegakkan sebuah Negara Islam yang besar, yang memiliki kekuatan pengaruh dalam bidang politik, ekonomi, dan teknologi di sebgaiab besdar wilayah bumi, atau di Negara yang memiliki wilayah territorial yang luas. Namun demikian kita tetap berusaha, agar kesatuan dapat terwujud, dengan segala cara, di beberapa Negara yang telah didominasi oleh gerakan Islam untuk menjadi cikal bakal lahirnya Negara inti dengan tugas-tugas sebagaimana yang disebutkan oleh Ustadz Hasan Al-Banna di muka. Yang menyatukan umat Islam sedunia di bawah naungan sebuah Negara Islam, sehingga setiap muslim di seluruh dunia ini merasakan, bahwa ia adalah negaranya sendiri, yang padanyalah loyalitas dan komitmen diberikan. Juga Negara itu harus melindungi dan menjaganya, di manapun ia berada.

Tujuan Gerakan Jamaah Ikhwanul Muslimin (IM) yang keenam adalah menegakkan Negara Islam yang tunggal atau menegakkan Negara kesatuan Islam yang menghimpun seluruh Negara Islam yang tunduk di bawah satu pucuk pimpinan pusat dan diketuai oleh seorang Imam. Itulah yang dilakukan Rasulullah SAW dan para khalifah dalam memimpin dan membimbing umat. Adapun saranya, dengan melangkah di atas mukadimah yang benar, yakni tegaknya kaidah-kaidah yang benar, yang dari sanalah Islam diberbagai wilayah bertolak.

Tujuan Gerakan Jamaah Ikhwanul Muslimin (IM) yang ketujuh adalah menegakkan Negara Islam internasional yang berkah dan rahmatNya menaungi semua bangsa di dunia. Caranya yang kita pergunakan untuk itu – setelah menegakkan Negara Islam internasional – adalah beraktifitas terus menerus yang sesuai dan layak untuk memastikan, bahwa dunia akan menerima dakwah ini. Semua ini akan terjadi, Insya Allah, karena Rasulullah SAW telah membawa kabar gembira ini kepada kita.

Dalam Risalah Ta’alimnya, Ustadz Hasan Al-Banna mengatakan,”Tahapan dakwah ada tiga macam:

1. TA’RIF

Dakwah dilakukan dengan menyebarkan fikrah Islam di tengah masyarakat. Adapun system dakwah untuk tahapan ini adalah system kelembagaan. Urgensinya adalah kerja social bagi kepentingan umum, sedangkan medianya adalah nasehat dan bimbingan sekali waktu, serta membangun berbagai tempat yang berguna di waktu yang lain, juga berbagai media aktifitas lainnya.

2. TAKWIN

Dakwah ditegakkan dengan melakukan seleksi terhadap anasir positif untuk memikul beban jihad dan untuk menghimpun berbagai bagian yang ada. Adapun istem dakwah untuk tahapan ini bersifat tasawuf murni dalam tatanan ruhani dan bersifat militer dalam tatanan opersional. Slogan untuk dua aspek ini adalah perintah dan taat dengan tanpa keraguan. Semua katibah (nama satuan kelompok para militer Ikhwan) yang ada kini adalah representasi dari tahapan ini dalam kehidupan dakwahnya. Ia terhimpun dalam risalah manhaj yang lalu. Dakwah pada tahapan ini bersifat khusus, tidak dapat dikerjakan oleh sesorang, kecuali yang memiliki kesiapan yang benar untuk memikul beban jihad yang panjang masanya dan berat tantangannya. Slogan utamanya dalam persiapan ini adalah totalitas ketaatan.

3. TANFIDZ

Dakwah dalam tahapan ini adalah jihad, tanpa kenal sikap plin-plan, kerja terus menerus untuk menggapai tujuan akhir, dan kesiapan menanggung cobaan dan ujian yang tidak mungkin bersabar atasnya, kecuali orang-orang yang tulus. Tidaklah dakwah ini meraih keberhasilan, kecuali dengan “ketaatan yang total” juga. Untuk inilah shaf pertama Ikhwanul Muslimin (IM) berbaiat pada bulan Rabi’ul Awwal 1359 H. Dalam Risalah Ta’alimnya, Ustadz Hasan Al-Banna menjelaskan tentang batasan-batasan bai’at yang dibutuhkan dewasa ini, adalah:

1. Bai’at untuk memahami Islam secara benar. Tanpa pemahaman yang benar ini, aktifitas untuk atau dengan nama Islam tiudak akan pernah terjadi. Tanpa pemahaman, langkah bersama menuju Islam tidak bias diwujudkan. Jika pun bias. Maka ia hanya berada pada ruang lingkup yang sempit dan tidak dapat memenuhi kebutuhan masa kini maupun masa mendatang.

2. Bai’at untuk berikhlas. Tanpa keikhlasan, amal apapun tidak akan diterima oleh Allah SWT, tidak juga dapat bergerak di medan dakwah secara benar. Setelah itu, shaf pun akan terlibas tanpa bekas.

3. Bai’at untuk beraktifitas, yang telah digariskan awal langkahnya dan telah jelas tujuannya, yang memulai dari diri sendiri dan berakhir dengan penguasaan Islam atas dunia seluruhnya. Ini merupakan kewajiban yang tidak seorang muslim pun terlepas darinya.

4. Bai’at untuk melakukan jihad, yang banyak orang Islam lupa, bahwa ia adalah neraca untuk menimbang Iman.

5. Bai’at untuk berkorban dengan segala yang dimiliki, demi meraih tujuan suci dan sorga Allah SWT.

6. Bai’at untuk taat sesuai dengan tingkat kemampuannya.

7. Bai’at untuk tegar menghadapi segala kondisi di setiap waktu.

8. Bai’at untuk memberikan loyalitas total bagi dakwah ini dengan melepaskan diri dari keterikatan kepada selain Allah SWT.

9. Bai’at untuk berukhuwah sebagai titik tolak.

10. Bai’at untuk tsiqah (memberikan kepercayaan) kepada pemimpin dan shafnya.

KEWAJIBAN-KEWAJIBAN SEORANG MUJAHID

Ustadz Hasan Al-Banna berkata,”Imammu kepada bai’at ini mengharuskanmu menunaikan kewajiban-kewajiban berikut, sehingga engkau menjadi batubata yang kuat bagi bangunan. Adapun KEWAJIBAN-KEWAJIBAN SEORANG MUJAHID sebagai berikut:

1. Hendaklah engkau memiliki wirid harian dari Kitabullah tidak kurang dari satu juz. Usahakanlah untuk mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu tidak

lebih dari sebulan dan tidak kurang dari tiga hari.

2. Hendaklah engkau membaca Al-Qur’an dengan baik, memeprhatikannya dengan seksama, dan merenungkan artinya.

3. Hendaklah engkau mengkaji Sirah Nabi dan sejarah para generasi salaf sesuai dengan waktu yang tersedia. Buku yanfg dirasa mencukupi kebutuhan ini minimal nadalah buku Hummatul Islam. Hendaklah engkau juga banyak mebaca hadits Rasulullah SAW, minimal hafal 40 hadits, ditekankan untuk menghafal Al-Arba’in An-Nawawiyah. Hendaklah engkau juga mengkaji risalah tentang pokok-pokok aqidah dan cabang-cabang fiqih.

4. Hendaklah engkau bersegera melakukan general check up secara berkala atau berobat, begitu penyakit terasa mengenaimu. Disamping itu perhatikanlah factor-faktor penyebab kekuatan dan perlindungan tubuh, serta hindarilah faktor-faktor penyebab lemahnya kesehatan.

5. Hendaklah engkau menjauhi sikap berlebihan dalam mengkonsumsi kopi, teh dan minuman perangsang semisalnya. Janganlah engkau meminumnya, kecuali dalam keadaan darurat dan Hendaklah engkau menghindarkan diri sama sekali dari rokok.

6. Hendaklah engkau perhatikan urusan kebersihan dalam segala hal menyangkut tempat tinggal, pakaian, makanan, badan, dan tempat kerja, karena agama ini dibangun di atas dasar kebersihan.

7. Hendaklah engkau jujur dalam berkata dan jangan sekali-kali berdusta.

8. Hendaklah engkau menepati janji, janganlah mengingkarinya, bagaimanapun kondisi yang engkau hadapi.

9. Hendaklah engkau menjadi seorang yang pemberani dan tahan uji; Keberanian yang paling utama adalah terus terang dalam mengatakan kebenaran, ketahanan menyimpan rahasia, berani mengakui kesalahan, adil terhadap diri sendiri, dan dapat menguasainya dalam keadaan marah sekalipun.

10. Hendaklah engkau senantiasa bersikap tenang dan terkesan serius. Namun janganlah keseriusan itu menghalangimu dari canda yang benar, senyum dan tawa.

11. Hendaklah engkau memiliki rasa malu yang kuat, berperasaan yang sensitive, dan peka oleh kebaikan dan keburukan, yakni munculnya rasa bahagia untuk yang pertama dan rasa yang tersiksa untuk yang kedua. Hendaklah engkau juga bersikap rendah hati dengan tanpa menghinakan diri, tidak bersikap taklid, dan tidak terlalu berlunak hati. Hendaklah engkau juga menuntut – dari orang lain – yang lebih rendah dari martabatmu untuk mendapatkan martabatmu yang sesungguhnya.

12. Hendaklah engkau bersikap adil dan benar dalam memutuskan suatu perkara pada setiap situasi. Janganlah kemarahan melalaikanmu dari berbuat kebaikan, janganlah mata keridhaan engkau pejamkan dari perilaku yang buruk, janganlah permusuhan membuatmu lupa dari pengakuan jasa baik, dan Hendaklah engkau berkata benar meskipun itu merugikanmu atau merugikan orang yang paling dekat denganmu.

13. Hendaklah engkau menjadi pekerja keras dan terlatih dalam aktifitas sosial. Hendaklah engkau merasa bahagia jika dapat mempersembahkan bakti untuk orang lain, gemar membesuk orang sakit, membatu orang yang membutuhkan, menanggung orang yang lemah, meringankan beban orang yang tertimpa musibah meskipun hanya dengan kata-kata yang baik. Hendaklah engkau juga senantiasa bersegera untuk berbuat kebaikan.

14. Hendaklah engkau berhati kasih, dermawan, toleran, pemaaf, lemah lembut kepada manusia maupun binatang, berperilaku baik dalam berhubungan dengan semua orang, menjaga etika-etika sosial Islam, menyayangi yang kecil dan menghormati yang besar, memberi tempat kepada orang lain dalam majelis, tidak memata-matai, tidak menggunjing, tidak mengumpat, meminta izin jika masuk maupun keluar rumah dan lain-lain.

15. Hendaklah engkau pandai membaca dan menulis, memperbanyak muthala’ah terhadap risalah Ikhwan, Koran, majalah, dan tulisan lainnya. Hendaklah engkau bangun perpustakaan khusus, seberapapun ukurannya, konsentrasilah terhadap spesifikasi keilmuan dan keahlianmu, jika engkau seorang spesialis; dan kuasailah persoalan Islam secara umum, yang dengannya dapat membangun persepsi yang baik untuk menjadi referensi bagi pemahaman terhadap tuntutan fikrah.

16. Hendaklah engkau memiliki proyek usaha ekonomi, betapapun engkau seorang kaya, utamakanlah proyek yang mandiri, betapapun kecilnya; cukupkanlah dengan apa yang ada pada dirimu, betapapun tingginya kapasitas keilmuanmu.

17. Janganlah engkau terlalu berharap untuk menjadi pegawai negeri dan jadikanlah ia sebagai sesempit-sempit pintu rezeki, namun jangan pula engkau tolak jika diberi peluang untuk itu. Janganlah engkau melepaskannya kecuali jika benar-benar bertentangan dengan tugas-tugas dakwah.

18. Hendaklah engkau perhatikan penunaian tugas-tugasmu (bagaimana kecermatan dan kualitasnya), jangan menipu, dan tepatilah kesepakatan.

19. Hendaklah engkau penuhi hakmu dengan baik, penuhi hak-hak orang lain dengan sempurna, tanpa dikurangi dan dilebihkan, janganlah menunda-nunda pekerjaan.

20. Hendaklah engkau menjauhkan diri dari judi dengan segala macamnya, apapun maksud dibaliknya. Hendaklah engkau juga menjauhi mata pencaharian yang haram, betapapun keuntungan besar yang ada di baliknya.

21. Hendaklah engkau menjauhkan diri dari riba dalam setiap aktivitasmu dan suscikanlah ia sama sekali dari riba.

22. Hendaklah engkau memelihara kekayaan umat Islam secara umum dengan mendorong berkembangnya pabrik-pabrik dan proyek-proyek ekonomi Islam. Hendaklah engkau menjaga setiap keping mata uang, agar tidak jatuh ke tangan orang non-Islam dalam keadaan bagaimanapun. Hendaklah engkau tidak makan dan berpakaian kecuali produk negeri Islammu sendiri.

23. Hendaklah engkau memiliki kontribusi financial dalam dakwah, engkau tunaikan kewajiban zakatmu, dan jadikan sebagian dari hartamu itu untuk orang yang meminta dan orang yang kekurangan, betapapun kecil penghasilanmu.

24. Hendaklah engkau menyimpan sebagian dari penghasilanmu untuk persediaan masa-masa sulit, betapapun sedikit, dan jangan sekali-kali menyusahkan dirimu untuk mengejar kesempurnaan.

25. Hendaklah engkau bekerja – semampu yang engkau lakukan – untuk menghidupkan tradisi Islam dan mematikan tradisi asing dalam setiap aspek kehidupanmu, misalnya ucapan salam, bahasa, sejarah, pakaian, perabot rumah tangga, cara kerja dan istirahat, cara makan dan minum, cara datang dan pergi, serta gaya melampiaskan rasa suka dan duka. Hendaklah engkau menjaga sunnah dalam setiap aktifitas tersebut.

26. Hendaklah engkau memboikot peradilan setempat atau seluruh peradilan yang tidak Islami,demikian juga gelanggang-gelanggang, penerbitan-penerbitan, organisasi-organisasi, sekolah-sekolah dan segenap institusi yang tidak mendukung fikrahmu secara total.

27. Hendaklah engkau senantiasa merasa diawasi oleh Allah, mengingat akhirat dan bersiap-siap untuk menjemputnya, mengambil jalan pintas untuk menuju ridha Allah dengan tekad yang kuat, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT, puasa tiga hari – minimal – setiap bulan, mempeerbanyak dzikir (hati dan lisan), dan berusaha mengamalkan doa yang diajarkan pada setiap kesempatan.

28. Hendaklah engkau bersuci dengan baik dan usahakan agar senantiasa dalam keadaan berwudhu (suci) di sebagaian besar waktumu.

29. Hendaklah engkau melakukan shalat dengan baik dan senantiasa tepat waktu dalam menunaikannya. Usahakan untuk senantiasa berjamaah di masjid jika itu mungkin dilakukan.

30. Hendaklah engkau berpuasa Ramadhan dan berhaji dengan baik, jika engkau mampu melakukannya. Kerjakanlah sekarang juga jika engaku telah mampu.

31. Hendaklah engkau senantaiasa menyertai dirimu dengan niat jihad dan cinta mati syahid. Bresiaplah untuk itu kapan saja kesempatan untuk itu tiba.

32. Hendaklah engkau senantiasa memperbaharui shalat dan istighfarmu. Berhatihatilah terhadap dosa kecil, aspalagi dosa besar. Sediakanlah – untuk dirimu – beberapa saat sebelum tidur untuk menginstrospeksi diri terhadap apa-apa yang telah engkau lakukan, yang baik maupun yang buruk. Perhatikan waktumu, karena waktu adalah kehidupan itu sendiri. Janganlah engkau pergunakan ia – sedikit pun – tanpa guna, dan janganlah engkau ceroboh terhadap hal-hal yang subhat, agar tidak jatuh ke dalam kubangan yang haram.

33. Hendaklah engkau berjuang meningkatkan kemampuanmu dengan sungguhsungguh, agar engkau dapat menerima tongkat kepemimipinan. Hendaklah engkau menundukkan pandanganmu, menekan emosimu, dan memotong habis selera-selera rendah dari jiwamu. Bawalah ia hanya untuk menggapai yang halal dan baik, serta hijabilah ia dari haram dalam keadaan bagaimanapun.

34. Hendaklah engkau menjauh dari khamer dan seluruh makanan atau minuman yang memabukkan sejauh-jauhnnya.

35. Hendaklah engkau menjauh dari pergaulan dengan orang jahat dan persahabatan dengan orang yang rusak, serta jauhilah tempat-tempat maksiat.

36. Hendaklah engkau perangi tempat-tempat iseng, jangan sekali-kali mendekatinya, serta jauhilah gaya hidup mewah dan bersantai-santai.

37. Hendaklah engkau mengetahui anggota katibahmu satu persatu dengan pengetahuan yang lengkap, dan kenalkanlah dirimu kepada mereka dengan selengkap-lengkapnya. Tunaikanlah hak-hak ukhuwah mereka dengan seutuhnya; hak kasih sayang, penghargaan, pertolongan dan itsar. Hendaklah engkau senantiasa hadir di majelis mereka, tidak absent kecuali karena udzur darurat, dan pegang teguhlah sikap itsar dalam pergaulanmu dengan mereka.

38. Hendaklah engkau hindari hubungan dengan organisasi atau jamaah apapun, sekiranya hubungan itu tidak membawa maslahat bagi fikrahmu, terutama jika diperintahkan untuk itu.

39. Hendaklah engkau menyebarkan dakwahmu di manapun dan memberi informasi kepada pemimpin tentang segala kondisi yang melingkupimu. Janganlah engkau berbuat sesuatu yang berdampak strategis kecuali dengan seizinnya.

40. Hendaklah engkau senantiasa mejalin hubungan, baik ruhani maupun ‘amali, dengan Jamaah dan menempatkan dirimu sebagai ‘tentara yang berada di tangsi yang tengah menanti instruksi komandan’. Engkau dapat menghimpun prinsip-prinsip ini dalam lima slogan:

1. Allah ghayatuna . Allah adalah tujuan kami

2. Ar-Rasul qudwatuna . Rasul adalah teladan kami

3. Al-Qur’an syir’atuna . AL-Qur’an adalah undang-undang kami

4. Al-Jihad sabiluna . Jihad adalah jalan kami

5. Asy-Syhadah umniyyatuna . Mati syahid adalah cita-cita kami.

URAIAN PELENGKAP

Pertama:

Beberapa kaidah yang sesuai dengan Tabiat Dakwah Kita dalam Manhaji Tsaqofah, Ta’lim dan Tarbiyah :

1. Persoalan pertama yang harus diperhatikan dalam manhaj kita adalah, bahwa ia harus selaras dengan dakwah dan harakah kita. Kita adalah harakah Islam modern yang ingin melakukan pembaharuan Islam di suatu masa yang memiliki spesifikasi tertentu, di samping, bahwa kita ingin mewujudkan tujuan-tujuan di tingkat nasional maupun internasional. Kata “Islam” menunjukkan kita untuk mengakomodasi semua prinsip tsaqafah Islam dan cabang-cabangnya. Kata “modern” menuntut kita untuk mengakomodasikan wawasan kekinian dengan tabiat dan spesifikasinya. Hal ini karena fatwa dikeluarkan berdasar waktu, tempat dan situasi saat itu.

2. Suatu hal yang harus mendapat perhatian dalam manhaj kita adalah bahwa ia harus memberikan kepada setiap muslim ketahanan moral. Agar terhindar dari kesesatan dan ketergelinciran, di samping terhindar pula dari penyelewengan pemikiran Islam atau pemikiran Jamaah.

3. Termasuk yang harus diperhatikan dalam manhaj kita adalah bahwa kita harus meletakkan di tangan setiap muslim sebuah barometer yang dapat mengukur segala sesuatu yang melingkupinya dengan standar Islam.

4. Salah satu yang harus diperhatikan dalam manhaj kita adalah bahwa persepsi umum tentang ilmu pengetahuan dalam perspektif Islam. Ada beberapa cabang ilmu yang diwajibkan dan merupakan fardhu’ain; ada yang studinya merupakan fardhu’ain; ada yang dianjurkan bagi sebagian orang namun fardhu kifayah bagi sebagian yang lain; ada cabang ilmu yang sunah hukumnya; ada yang hukumnya mubah; ada lagi yang diharamkan dan dibenci. Pendalaman terhadap cabang ilmu yang fardhu kifayah adalah sunah, bahkan adanya seorang pakar di setiap disiplin ilmu merupakan fardhu kifayah.

5. Dalam tulisannya, Hasan Al-Banna menyebutkan beberapa peringkat keanggotan dalam dakwah Ikhwan. Disebutkan, bahwa ia terdiri dari: Ikatan umum, ikatan ukhuwah, ikatan amal, dan ikatan jihad. Yang telah terjalin dalam ikatan umum disebut akh musa’id, yang terjalin dalam ikatan ukhuwah disebut akh muntasib, yang terjalin dalam ikatan amal disebut akh ‘amil, dan yang terjalin dalam ikatan jihad disebut akh mujahid. Setelah itu Ustadz Hasan Al-Banna berkata,”Kantor pusat berhak memberi gelar-gelar kehormatan, antara lain: naqib dan naib untuk masing-masing akh yang ada dalam ikatan amal dan jihad”.

6. Setelah – dalam kumpulan risalahnya – menyebut adanya sekumpulan persepsi yang cacat tentang Islam di etngah masyarakat, Ustadz Hasan Al-Banna berkata,”Persepsi beragam pada banyak orang tentang Islam yang satu, menjadikan mereka berselisih secara nyata dalam dakwah Ikhwanul Muslimin dan dalam cara pandang mereka”.

7. Ada sebagian masyarakat yang memahami Islam secara global, namun tidak memahami rinciannya. Bahkan kadang-kadang memahami perincian Islam dengan hawa nafsunya, misalnya, mereka mengimani bahwa Islam memiliki prinsip keadilan dan persamaan. Namun mereka memahami kata “adil” dan “sama” dengan standar hawa nafsunya, bukan dengan syariat Allah.

8. Yang harus juga diperhatikan dalam manhaj kita adalah agar dalam manhaj tidak terdapat ruang yang memungkinkan masuknya kekufuran dan kesesatn, sehinggamerusak hati, jiwa dan pikiran kaum muslimin. Banyak masalah detail yang jika tidak mendapat perhatian serius akan menyebabkan kehancuran dunia dan akhirat, atau salh satu dari keduanya.

9. Komitmen kepada Islam pada gilirannya dapat mewujudkan berbagai nilai yang dibutuhkan oleh setiap diri muslim dan jamaah Islam. Nilai-nilai ini kita namakan karakter. Karakter-karakter inilah yang membedakan seorang muslim dan non muslim, atau membedakan Jamaah Islam dengan komunitas Non Islam.

10. Pada diri Jamaah Ikhwanul Muslimin terdapat berbagai slogan, selain pembahasan tentang akhlak dan etika dalam kehidupan. Beberapa slogan itu ialah:

a. Allah ghayatuna . Allah adalah tujuan kami

b. Ar-Rasul qudwatuna . Rasul adalah teladan kami

c. Al-Qur’an syir’atuna . Al-Qur’an adalah undang-undang kami

d. Al-Jihad sabiluna . Jihad adalah jalan kami

e. Asy-Syhadah umniyyatuna . Mati syahid adalah puncak cita-cita kami.

11. Tidaklah sempurna KeIslaman seorang muslim, kecuali jika ia melakukan beberapa hal sbb:

• Ikut serta dalam halaqah-halaqah ilmiah umum, karena padanya ada berkah khusus;

• Ikut serta dalam halaqah-halaqah ilmiah khusus, karena ia mengantarkan seseorang kepada pengetahaun yang terfokus;

• Senantiasa menginstrospeksi diri, karena seseorang tidak mungkin mendapatkan kadar pengetahuan yang tinggi, kecuali memalui upaya pribadi yang panjang dan terfokus.

12. Jamaah Islam harus memepunyai sistem. Sistem ini harus tegak di atas suatu prinsip nilai, mempunyai perencanaan, dan program kerja, serta memiliki konsep Tarbiyah dan Ta’lim yang saling berjalin dengan hal-hal di atas. Jamaah Islam juga harus memiliki kaidah-kaidah yang dijadikan pijakan bagi semua anggota. Semua itu harus mendapat perhatian utama dalam penyusunan manhaj, baik manhaj Tarbiyah maupun Ta’limnya.

13. Di tubuh umat ini ada pejuang kebenaran yang tidak pernah terputus geraknyawalau sejenak pun. Rasulullah SAW bersabda,”Senantiasa ada kelompok dari umatku yang memperjuangkan kebenaran, mereka tidak terpengaruh oleh pihak yang merintanginya hingga hari kiamat.”

14. Kita adalah gerakan tajdidi (pembaru). Salah satu indikator tajdidi adalah bahwa kita harus menghidupkan kembali seluruh ajaran Islam dan memperbarui wawasan, tindakan, serta moralitas di setiap level.

15. Kita tidak boleh lupa, bahwa kita senantiasa berhadapan dengan dua aliran pemikiran besar, yakni: kapitalisme dan sosialisme komunis. Kita juga tidak boleh lupa, bahwa di antara keduanya sesungguhnya terjadi pertarungan hebat dalam hal pemikiran. Pada saat yang sama kita – dan umat Islam pada umumnya – kurang memiliki pengetahuan yang memadai tentangnya, sehingga tidak memiliki imunitas yang baik.

Kedua:

Ustadz Hasan Al-Banna menyebutkan secara rinci 6 peringkat keanggotaan. Jumlah itu dapat diringkas lagi hanaya menjadi lima poeringkat, yakni anshar, mujahidin, ‘amilin, nuqaba’(para naqib) dan nuwwab (para naib). Masing-masing peringkat4itu seharusnya memiliki manhaj, karakteristik, dan pola komitmennya sendiri. Meningkat atau tidaknya kualitas keanggotaan seseorang (atau tetap tidaknya seseorang di luar barisan) tergantung pada kadar penguasaan manhaj, karakteristik, dan pola komitmennya. Ketiga:

Standar keberhasilan pada peringkat pertama dalam manhaj kita dan di awal perjalanan keanggotaannya adalah pelaksanaan yang sempurna akan tuntutan iman, shalat, infaq dan loyalitas secara penuh kepada jamaah, sesuai firman Allah: QS Al-Maidah :55-56 Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan Barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, Maka Sesungguhnya pengikut (agama) Allah[423] Itulah yang pasti menang. [423] Yaitu: orang-orang yang menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya.

Standar keberhasilan pada peringkat kedua adalah terealisasinya secara penuh Mahabbatullah, rendah hati kepada sesame mukmin, tegas terhadap orang-orang kafir, dan jihad di jalkan Allah dengan tidak merasa takut atas celaan orang-orang yang mencela sesuai firman Allah:. QS Al-Maidah :54 Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.

Standar keberhasilan pada peringkat jenjang naqib adalah terealisasinya nilai-nilai peringkat sebelumnya diatambah luasnya ilmu pengetahuan dan terpenuhinya beberapa sifat khusus bagi seorang naqib muslim, seperti lemah lembut, pemurah, serius, kasih sayang sesama muslim, senang bermusyawarah, jujur, komitmen, wara’, bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang dipikulkan dipundaknya, dan sifat-sifat lain yang menjadi karakter pribadi seorang muslim. Kita tidak menuntut seorang muslim agar bersih dari kesalahan sama sekali, tetapi kita menunut agar ia tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukannya. Oleh karena itu seorang naqib harus dapat mengambil pelajaran dari kesalahan-kesalahan yang telah dibuatnya.

Kamis, 28 Mei 2009

Jurnal

Menggunakan Kinerja Tugas di Identifikasi Secara ekonomi dan dari peserta didik golongan kecil : Temuan Dari Proyek STAR

Joyce VanTassel-Baska, DanaJohnson, dan Linda D. Avery

pada Universitas William and Mary

A B S T R A C T


Makalah ini membahas dasar untuk mengembangkan kinerja penilaian tugas-tugas untuk meningkatkan identifikasi yang lebih ekonomis dan para siswa minoritas berbakat untuk program dalam satu negara; menyediakan lembaran untuk pengembangan protokol, termasuk preteaching, rubrics, dan exemplars; dan menunjukkan temuan utama untuk digunakan dengan protokol yang ditujukan siswa. Kinerja penilaian tugas-tugas tersebut dikembangkan dan direvisi berdasarkan try-out, uji coba, uji lapangan dan data yang dikumpulkan di beberapa kabupaten dengan lebih dari 4.000 siswa utama dan di antara nilai-nilai. Teknis sesuai kecukupan data yang digunakan untuk pengambilan keputusan tentang tugas dan rubrik revisi. Kriteria tingkat kinerja dalam domain tersebut dikembangkan untuk menjamin penyertaan dari populasi yang menarik tanpa kompromi integritas tugas protokol. Kinerja penilaian tugas ofProject STAR dihasilkan dalam menemukan sebuah tambahan kelompok siswa yang 12% Afrika Amerika dan 14 (Y) berpenghasilan rendah anak-anak yang dunng Bidang pengujian dari instrumen. Siswa ini mewakili mereka yang tidak memiliki kualifikasi gifted program menggunakan langkah-langkah tradisional. Dalam arti, penilaian Pendekatan yang menghasilkan "nilai tambah" komponen ke negaraidentifikasi sistem. Dengan demikian, Proyek STAR menyediakan
pendekatan efektif dan inovatif untuk mencari lebih rendah SES minoritas dan program untuk siswa berbakat.

Penghapusan dari prestasi pendidikan masih besar kesenjangan antara bangsa dari kelompok ras dan etnis terus pose yang paling menekan pendidikan tantangan menghadapi Amerika Serikat (Nasional Tugas pada Minoritas Prestasi tinggi, 1999). Dalam rangka untuk mempromosikan lebih luas akses ke sekolah berbasis program berbakat dan berbakat anak-anak, adaptasi mungkin perlu dibuat dalam penyaringan
prosedur dan pemilihan sekolah dilaksanakan di kabupaten. Seperti adaptasi mungkin lebih responsif terhadap segudang psikologis yang mempengaruhi stressors minoritas penduduk (Ford-Harris, Schuerger, & Harris, 1991; VanTassel-Baska, Patton, & Prillaman, 1991) dan data untuk belajar pendekatan yang lebih konkrit dan aktif, dalam menjaga dengan preferensi diidentifikasi di African American populasi siswa (Ford, 1996). Meskipun saat ini individual intelijen tes belum ditampilkan psychometrically menjadi bias kesukuan atau rasialis (Carroll, 1997), giftedness adalah membangun sebuah kompleks yang mungkin juga akan divalidasi melalui pelaksanaan intelektual dan akademik kinerja dalam konteks yang lebih asli. Ia juga mungkin discerned hati-hati melalui observasi beberapa waktu tertentu intelektual perilaku seperti keingintahuan, konsentrasi, kegigihan, menemukan masalah, dan alasan. Anak-anak kurang pandai tetapi memiliki kinerja yang baik dalam kelas atau dalam kondisi psikologis yang baik atau tidak stress, dapat merespon lebih baik dalam setiap kesempatan untuk menunjukkan potensi mereka yang lebih jelas dengan minat, pengetahuan, atau pengalaman dasar.

Seperti sebuah pendekatan dengan identifikasi adalah kongruen sekarang penelitian tentang penggunaan asli prosedur penilaian untuk mengukur pencapaian murid (Wiggins, 1993). Pada kenyataannya, penilaian seperti itu telah ditunjukkan untuk menjadi hal yang relevan dengan masalah kurikulum berbasis pembelajaran dalam sains yang dikirimkan bagi siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata di (VanTassel-Baska, Bass, Ries, Polandia, & Avery, 1998) dan kurikulum yang berfokus pada berpikir tingkat tinggi dan menulis tentang sastra (VanTassel-Baska, Zuo, Avery, & Little, 2002). Akan tetapi, kecuali ofwork dilakukan di Rutgers University untuk digunakan dalam identifikasi gifted anak TK (Feiring, Louis, Ukeje, Lewis, & Leong, 1997), tidak ada largescale
penelitian dan pengembangan bekerja telah diterbitkan dalam daerah ini untuk tujuan memilih siswa tingkat SD - berbakat untuk masuk ke program. Jadi, kurikulum pembangunan ofthe Pusat Gifted Pendidikan di
College of William and Mary yang ditawarkan yang berharga latar persyaratan untuk proyek ini.


Tujuan
Tujuannya program STAR membuat serangkaian tugas penilaian kinerja untuk digunakan dalam mengidentifikasi siswa berbakat akademis untuk program di kelas 3-6
sesuai dengan peraturan negara bagian
South Carolina untuk gifted program. Dalam tahun-tahun sebelumnya, South Carolina peraturan untuk identifikasi menggunakan bobot profil proses sangat bergantung pada waktunya, beberapa pilihan-bakat dan prestasi skor di atas perseratus tinggi (Gifted dan Talented, Sehingga. Mobil. Negara Badan Regulasi R43-220). Dalam Tahun ajaran 1999-2000, baseline data menunjukkan bahwa 15% dari siswa yang berbakat untuk mengidentifikasi program yang
African American (> J. Tuhan, komunikasi pribadi, 27 September 2000). Persentase ini tercermin suatu disparitas dengan keseluruhan populasi African American angka dari
42,1% untuk
South Carolina. Jumlah siswa rendah SES dalam program-program yang tidak tersedia untuk analisis.

South Carolina peraturan membolehkan beberapa jalur terkemuka untuk identifikasi siswa berbakat untuk program kelayakan. Salah satu jalur yang melibatkan siswa memenuhi kriteria dalam dua dari tiga dimensi: (1) Dimensi A, yang berhubungan dengan kemampuan sebagai alasan diukur pada kelompok atau individu tes bakat; (2) Dimensi B, yang berkaitan dengan prestasi tinggi dalam membaca,
matematika, atau keduanya sebagai diukur oleh nasional normed South Carolina negara atau instrumen penilaian; dan (3) Ukuran C, yang berhubungan dengan intelektual /
akademik kinerja yang akan diukur berdasarkan kinerja yang baru - berdasarkan penilaian instrumen untuk kelas 1-6. Untuk Dimension A, siswa harus skor nasional di 90. perseratus usia atau di atas, karena mereka harus Ukuran B skor di 94. Perseratus nasional dan di atas atau "lanjutan status" pada matematika atau membaca. Untuk Dimension C, baru dengan menggunakan instrumen berbasis kinerja, siswa harus mencapai empat poin di
lima titik skala (misalnya, 80% atau di atas). Dimensi C juga memungkinkan untuk menggunakan nilai penempatan dalam program kelima di kelas atau lebih tinggi.

Inisiatif ini terutama yang dirancang untuk memperluas cara untuk mengidentifikasi giftedness di seluruh populasi mahasiswa dan secondarily untuk menanggapi kebutuhan untuk mempromosikan pemerataan dalam identifikasi underrepresented populasi gifted program di seluruh negara, khususnya African American mahasiswa dan penduduk dari latar belakang ekonomi rendah. Ini berbasis kinerja dicari langkah-langkah untuk memberikan jalan alternatif untuk dipertimbangkan untuk masuk ke program berbakat. Dengan demikian, maka pendekatan merupakan "nilai tambah" pada komponen identifikasi sistem negara.

Bekerjasama dengan Departemen South Carolina pada Pembelajaran Pusat dihasilkan sebuah wadah penampilan tugas penilaian dan dengan rubrics dengan enam item luster per kelas untuk SD (kelas 2-3) dan intermediate tinggi (kelas 4-5). Kinerja tugas-tugas ini adalah administratif dalam kelompok kecil, termasuk verbal dan nonverbal komponen, dan diperlukan pensil dan kertas tanggapan dari siswa.

Penilaian tugas-tugas yang berpilot dua kali untuk beberapa tujuan: (1) untuk menilai kecukupan teknis item, (2) untuk mendirikan umum teknis kecukupan dari keseluruhan penilaian protokol, dan (3) untuk perkiraan kondisi pelaksanaan protokol di sekolah.

Kecukupan Teknik

Kecukupan teknis Statistik yang sesuai untuk tes validitas, keandalan, bias, plafon dan efek dilakukan. Keandalan dinilai melalui menggunakan Cronbach alpha. Domain-spesifik perkiraan pada pilot setara data berkisar ,72-,86 di seluruh tingkatan, sedangkan komposit skor berkisar ,83-,89. Validitas dinilai melalui review dari matematika dan lisan
komponen, serta penilaian yang dilakukan secara keseluruhan konten oleh tiga ahli.Pengujian untuk membangun dan yg berbarengan Validitas juga berjalan.Differential item berfungsi telah dianalisis regresi melalui beberapa teknik untuk memeriksa menguji bias. Plafon efek juga menganalisis dan menemukan kekurangan, dengan hanya beberapa siswa yang sangat scoring di bagian atas ujian.


Tinjauan Pada Kesusastraan Relevan


Sastra strands relevan dengan penilaian kinerja proyek yang berkaitan dengan proses tugas pembangunan, untuk masalah teknis kecukupan, dan pada kesesuaian berbasis dengan tugas untuk digunakan secara ekonomis dirugikan dan berbakat populasi minoritas.

Proses dari Tugas Pembangunan

Penilaian kinerja perorangan yang memerlukan merancang tes dan penilaian untuk desainer kreatif, seperti banyak arsitek. Seperti di kemudian profesi, maka desain masalah berkaitan dengan keputusan tentang konten dan cakupan, tentang proses yang akan digunakan, dan secara keseluruhan tentang efek dalam hormati ke koherensi. Wiggins (1992) dijelaskan penting pertimbangan dalam proses ini. Dalam tugas-pengembangan tahap, desainer harus sadar yang contextualizing tugas sehingga situasi yang otentik ke lapangan yang belajar, dibandingkan dengan yang terdiri dari banyak item yang tidak terkait. Penilain wacana harus mewakili objek yang sedang diuji, bukan ofwhat adalah mudah untuk skor. Administrasi faktor juga harus dipertimbangkan, termasuk membuat kendala sebagai proses uji realistis mungkin. Setelah tugas dikembangkan, template dari tugas, contoh tugas, desain dan kriteria harus diambil bersama-sama untuk menciptakan sebuah alat kit untuk memudahkan penciptaan oftasks di masa mendatang. Akhirnya, tugas-tugas yang harus berpilot dan akan direvisi untuk mengungkapkan kesulitan atau kurangnya kejelasan bagi siswa atau penilai. Setelah piloting, revisi harus dilakukan, berdasarkan masukan yang diterima, dan maka proses harus mencoba lagi.


Spesifik subyek area penilaian studi dan literatur terkait juga berguna dalam mengingat dimensi penilaian kinerja pembangunan. Nasional Dewan Guru dan Matematika (NCTM) disajikan enam standar penilaian yang dapat digunakan untuk memandu pembangunan. Standar ini difokuskan pada matematika belajar, keadilan, keterbukaan, inferences, dan koherensi (Schulman, 1996). Pertanyaan khusus untuk direkomendasikan pengembang termasuk yang berikut ini:
* Apa yang penting ide matematika ini penilaian
tugas alamat?
* Bagaimana tanggapan untuk memberitahukan tugas instruksi ini?
* Bagaimana tugas memungkinkan berbagai ofresponses dan
Tanggapan dari mode?
* Apakah ada referensi apakah para pelajar untuk mengetahui apa yang
diharapkan dari mereka dalam tugas ini?
* Apa sumber lain ada bukti untuk mendukung inferences
dibuat?
* Bagaimana tugas ini sesuai dengan tujuan belajar dan prosedur?


Solano-Flores dan Shavelson (1997) advocated yang kuat konseptual dalam kerangka mengembangkan ilmu kinerja penilaian (SPA). Tiga komponen utama adalah: (1) yang tugas yang posed yang baik contextualized masalah yang memerlukan penggunaan ofmaterials, (2) respon format yang mahasiswa tanggapan yang diambil, dan (3) satu sistem yang mampu skor yang reasonableness ilmiah dan akurasi dari tanggapan. Spa juga dapat dibayangkan sebagai tugas yang mencoba kembali ke kondisi di mana para ilmuwan bekerja dan untuk mendapat jenis reasoning dan berpikir bahwa mereka
digunakan untuk memecahkan masalah ilmiah. Penulis disebut perhatian bersaing dengan prioritas antara penilaian dimensi sebagai isu utama dalam tugas-proses pembangunan. Untuk contoh, tugas pengembang yang perlu untuk mendamaikan ketegangan
antara unsur-unsur seperti itu karena biaya-manfaat dengan hubungan kebutuhan bahan-bahan untuk bersikap secara konsisten, tapi masih layak secara ekonomis atau antara interrater kehandalan dan nilai waktu pelatihan. Ini ketegangan antara berbagai elemen yang tidak pernah sepenuhnya dipecahkan, seperti perubahan dibuat dalam satu elemen membuat konsekuensi-sering tidak terduga -orang dalam berbagai elemen lainnya.


Isu Kualitas dan Kesalahan Kontrol

Sebagai penilaian kinerja telah dipindahkan dari digunakan oleh individu guru di kelas masing-masing untuk skala besar penilaian, kontrol kualitas telah menjadi isu yang lebih besar (Dunbar, Koretz, & Hoover, 1991). Dalam setiap kelas, konteks penilaian dikenal oleh guru melakukan penilaian kinerja dan hanya satu bagian dari penilaian siswa untuk menandai masa. Dengan menggunakan push sekarang penilaian kinerja pada skala yang lebih besar, seperti di negara atau districtwide pengujian program, yang intim pengetahuan konteks hilang, seperti merupakan kesempatan bagi siswa, kelas, dan kabupaten untuk akan dinilai di lebih dari satu tembakan tepat.

Dengan penilaian kinerja, cakupan tugas diberikan dalam penilaian menjadi sangat penting. Langsung penilaian kinerja yang rumit biasanya ditemukan dipenilaian kinerja tidak baik cenderung menyamaratakan tugas dari satu ke yang lain, bahkan di dalam domain yang sama. Misalnya, menulis penilaian yang hanya menggunakan satu prompt dan menulis satu jenis tidak sedikit untuk menilai bagaimana baik siswa mampu melakukan dalam domain ofwriting. J berbagai tugas yang lebih luas dalam domain harus digunakan untuk mencegah masalah yang mungkin timbul ketika penilaian
terlalu menggunakan beberapa tugas. Namun, studi menunjukkan bahwa sebuah titik yang berkurang kembali terjadi, di mana lebih tugas atau lebih rating lakukan sedikit untuk meningkatkan kehandalan atau keabsahan dari penilaian (Dunbar, Koretz, & Hoover, 1991).

Sebagai penilaian kinerja telah mendapatkan lebih banyak popularitas,
keprihatinan mereka telah mengembangkan sekitar kehandalan. Jiang, Smith, dan Nichols (1997) melakukan analisis meta untuk menyelidiki dan mengidentifikasi sumber miskin untuk keandalan penilaian kinerja. Mereka meta analisis of22 studi melihat empat sumber kesalahan dan jalan ini sumber berkontribusi secara terpisah atau bersama-sama dengan keandalan yang proses. Sumber kesalahan tersebut adalah: (1) yang satu
item, (2) set ofjudges atau rating, (3) acara-acara tertentu ofadministration, dan (4) dari kekurangan perhatian sejenak test takers atau orang lain. Hasilnya menunjukkan bahwa
segmen berbeda besar berasal dari tugas / item dan Kadang-kadang dimensi. Orang (pengambil tes) juga memberikan kontribusi perbedaan signifikan. Hakim atau rating,namun tidak memberikan kontribusi yang besar dari kesalahan berbeda.
Ini sedikit berbeda dapat dikurangi dengan lebih teliti pelatihan prosedur untuk hakim rating. J tiga arah interaksi antara orang, tugas / barang, dan hakim / pencerewet kontribusi yang paling berbeda, yaitu 35% dari total.

Dalam kedua studi, adalah fokuspada pengembangan dan evaluasi kinerja dari model penilaian berbasis pada domain independen penilaian kinerja (Baker, Abedi, Linn, & Niemi, 1996). Penilaian ini adalah kemudian diaplikasikan ke berbagai konten atau isi daerah, dengan gagasan utama yang menjadi inti ada penilaian struktur untuk satu set kognitif tuntutan, termasuk tugas spesifikasi dan rubrics scoring. Dalam studi ini, 69 siswa kelas dua 11th-California kelas berpartisipasi, dengan siswa yang terdaftar di diperlukan American sejarah kelas. Siswa besar Caucasians kelas menengah, dengan minoritas besar dari middleclass Asia. Difokuskan pada penilaian mendalam, konseptual
pemahaman tentang topik yang diambil dari berbagai bidang Sejarah Amerika. Ofthese di setiap daerah, siswa pertama dinilai relevan dengan latar belakang pengetahuan tentang
sejarah periode yang diperiksa. Hal ini dicapai melalui 20 item pendek terbaik tes untuk mengukur Prinsip-prinsip dan aktivitas spesifik dari periode. Siswa kemudian diminta untuk membaca dan memahami dua utama sumber teks dan diberi waktu 12 sampai 14 literal komprehensi pilihan ganda pertanyaan yang berhubungan dengan teks. Ketiga
langkah ini adalah untuk menulis sebuah karangan berdasarkan sangat contextualized penjuru. Pada tahap akhir, para siswa menyelesaikan tanya kuesioner. Setiap penilaian diperlukan satu setengah jam untuk menyelesaikan semua tahapan.
Penilaian wacana dirancang menggunakan dimensi yang ahli bibit unggul dari kinerja.
Para ahli kinerja untuk rubrics itu diambil dari esai yang ditulis oleh individu dengan derajat lanjutan dalam sejarah Amerika, dan bibit yang diambil dari kinerja tinggi sekolah siswa. Rubrics yang berisi konten yang Lain-lain Kualitas dan skala lima subscales, termasuk Sebelum Pengetahuan, Prinsip / Konsep, Teks Selengkapnya, Misconceptions, dan argumentasi. Hasil disarankan bahwa angka rubrics bekerja sama di berbagai topik, mendukung penelitian lainnya yang telah menunjukkan bahwa subscale skor menunjukkan pada berbagai topik terkait dengan pola Validitas tindakan eksternal. Temuan bahwa baik tingkat ofreliability yang didapat dengan benar gol pelatihan,
meskipun tingkatan yang lebih rendah dalam setiap topik.

Kecukupan kajian teknis juga telah dilakukan pada skala besar penilaian kinerja protokol (Lane, Liu, Ankenmann, & Stone, 1996). The QUASAR (Kuantitatif Memahami: Amplifying Siswa Prestasi dan reasoning) Cognitive Assesment Instrumen (QCAI) telah dikembangkan dan digunakan untuk mengukur reasoning siswa dan kemampuan matematika. Pertanyaan buka telah berakhir-item yang ditanyakan tidak hanya untuk siswa menjawab pertanyaan, tetapi juga untuk menjelaskan jawaban mereka dan menampilkan solusi proses. QCAI yang dirancang untuk mengukur hasil program dan pertumbuhan dalam matematika, daripada individu siswa hasilnya. Dalam pemeriksaan yang pada hasil penilaian ini untuk siswa sekolah menengah
(kelas 6 dan 7), para peneliti menemukan bukti untuk beberapa generalizability dan berlaku untuk QCAI penilaian. Itu generalizability hasil bahwa pencerewet kesalahan sangat minim dan perbedaan yang paling besar cenderung terletak di siswa
kinerja di seluruh tugas. J hubungan yang lebih kuat ditemukan antara QCAI skor dan pemecahan masalah dan konseptual subtest skor di Iowa Ujian Basic Skills
(ITBS) dibandingkan antara QCAI dan ITBS matematika subtest hisab. Lainnya studi ini berbasis pada proyek memiliki fokus pada item diferensial tanggapan (Wang &
Lane, 1996).

Berdasarkan studi ini, mungkin adil untuk menyimpulkan bahwa kinerja berdasarkan penilaian yang dapat dikembangkan menghormati integritas ofgood konstruksi dan uji-kurikulum - prinsip-prinsip desain dan mencapai tujuan mereka dinyatakan mendemonstrasikan perilaku siswa asli.

Sosioekonomi rendah dan Minoritas Gifted

Ini adalah kepercayaan yang banyak di bidang pendidikan gifted fgiftedness konsep yang baru dan paradigma baru untuk mengidentifikasi dan memilih siswa yang akan membantu sosial ekonomi rendah minoritas dan perwakilan siswa mencapai lebih besar berbakat dalam program (Ford, 1996; VanTassel-et Baska al., 1991). Ofidentification paradigma baru ini akan mengenali berbagai cara di mana siswa menampilkan giftedness untuk panggilan dan akan lebih bervariasi dan penilaian otentik.
Daripada mengandalkan intelijen dan prestasi nilai ujian hanya untuk identifikasi, beberapa kriteria yang akan digunakan, termasuk langkah-langkah lebih nontraditional, seperti mengamati siswa berinteraksi dengan berbagai cara belajar peluang (Passow & Frasier, 1996).

Yang semakin populer cara untuk mengevaluasi siswa gifted program ini adalah untuk menggunakan beberapa atau multidimensi penilaian (Hadaway-& Marek Schroer, 1992). Beberapa bentuk penilaian harus jelas yang akan digunakan ketika menilai minoritas siswa. Mungkin termasuk pendekatan portofolio, tradisional dan langkah-langkah standar nontraditional, nominasi, nilai, persediaan, dan daftar periksa. Apa semua elemen harus dilakukan adalah membantu menciptakan sebuah gambar yang jelas dan bakat kemampuan siswa yang memiliki dan tidak menghilangkan pelajar berdasarkan sosial ekonomi, ras, atau latar belakang budaya.

Bagian dari proses penilaian yang tidak tradisional melibatkan mencoba untuk menyerap cairan, daripada crystallized, kemampuannya. Dinamis penilaian seperti itu adalah salah satu nontraditional pendekatan yang digunakan untuk menilai kemampuan kognitif yang seringkali tidak nyata ketika kebanyakan bentuk tes standar yang digunakan. Jenis penilaian biasanya terdiri dari tes-intervensi - retest format, dengan fokus pada peningkatan siswa setelah melakukan intervensi yang didasarkan pada belajar
strategi kognitif yang berkaitan dengan penguasaan dari pengujian tugas (Feuerstein, 1986; Kirschenbaum, 1998).

Ada alat lainnya yang umum digunakan untuk menilai dan mengidentifikasi underrepresented siswa berbakat untuk program yang mencakup nilai, persediaan, daftar periksa, dan nominasi dari guru / staf, orang tua, dan rekan-rekan. Ada manfaat yang baik dan drawbacks dalam penggunaan alat ini. Nominasi dapat cara yang berguna untuk mengidentifikasi siswa dengan atypical profil siswa atau orang-orang yang menunjukkan masalah kreatif memecahkan pengaturan di luar sekolah. Drawbacks dapat meliputi kurangnya informasi tentang berbagai giftedness; kepercayaan pada guru di kelas, kelas performa, dan motivasi, dan masalah-masalah seperti orang tua keadaan mengasingkan diri dari sekolah, kesulitan bahasa, dan budaya perbedaan (Hadaway & Marek-Schroer, 1992).

Beberapa proyek yang telah didanai melalui United Serikat Departemen Pendidikan Javits program untuk alamat masalah underrepresentation dari para siswa dalam gifted program. Salah satu yang paling menjanjikan upaya ini telah Synergy Proyek yang dijalankan melalui Guru College, Columbia di New York City. Proyek Synergy dirancang untuk menghasilkan cara-cara baru untuk mengidentifikasi dan mendidik anak, berpotensi berbakat dari para siswa latar belakang. Ofidentification validasi data yang dikumpulkan dari dua tahun pertama 'cohorts (1991 dan 1991-1992), menunjukkan bahwa proses identifikasi telah berlaku bagi dimaksudkan tujuan (Borland & Wright, 1994). Kaum muda, ekonomi yang diidentifikasi melalui para mahasiswa ini proses itu, setelah satu tahun transisi layanan, mendemonstrasikan pada standar nilai ujian, termasuk Stanford - Binet Intelligence Scale IV, yang menempatkannya di 84. Perseratus, atas dari 34. perseratus. Selain itu, tujuh anak-anak ofthe pertama dari kelompok kelompok yang tetap setelah akhir kelas pertama, lima telah dikirim ke sekolah untuk siswa berbakat. Namun, prosedur yang digunakan dalam portofolio ini threephase model ofidentification adalah waktu dan tenaga kerja-intensif dan mungkin tidak praktis di banyak sekolah pengaturan.

Nasional studi di identifikasi oleh praktek Hunsaker (1994), sekolah yang disurvei kabupaten mengenai masalah underrepresented masyarakat di gifted program. Hasil menunjukkan bahwa hampir halfofthe kabupaten kembali survei tidak melihat minoritas atau secara ekonomis para siswa sebagai yang paling underrepresented masyarakat di gifted program; yang paling umum strategi yang digunakan adalah menggunakan ofmultiple dan alternatif penilaian, dan bahwa tidak ada daerah yang puas dengan hasil usaha mereka.

Berdasarkan pemahaman kami saat ini masalah underrepresentation yang berpenghasilan rendah dan minoritas siswa berbakat dalam program, penggunaan ofperformance berdasarkan penilaian nontraditional sebagai alat untuk meningkatkan kemungkinan lebih besar dari perwakilan mahasiswa dalam program ini nampaknya yang menjanjikan pembangunan. Apalagi, jika untuk mengembangkan proses penilaian dan piloting protokol adalah suara, maka banyak persoalan teknis kecukupan dapat diatasi atau dikurangi. Studi belum benar-benar terfokus Namun, bagaimanapun, pada komparatif kemanjuran dari pendekatan ini dalam kaitannya dengan modelofidentification lebih tradisional.

Rationalefor Gunakan ofPerformance Assesment sebagai Toolfor Mengidentifikasi Secara ekonomi Dirugikan dan Minoritas Mahasiswa


Bukan saja dari tinjauan literatur pada kinerja penilaian dan secara ekonomis dirugikan gifted dukungan untuk menghasilkan Mempekerjakan pendekatan, kita memahami kurikulum pendidikan yang berbakat dan ini khusus populasi keadaan baik juga menunjukkan bahwa sebuah pendekatan dapat bersemangat. Pertama, kriteria bagi penciptaan baik kinerja item penilaian paralel beberapa kriteria untuk pengembangan ofsound kurikulum bagi peserta didik berbakat. Seperti kriteria panggilan untuk menjadi terbuka berakhir, dengan fokus pada tingkat lebih tinggi berpikir dan pemecahan masalah, dan menekankan pada artikulasi proses berpikir yang digunakan (misalnya, metacognition). Dimasukkan ke dalam penilaian protokol, fitur ini sama
harus memberikan bukti ofthe dalam kapasitas untuk melakukan gifted program kelas karena cornerstones dari kebanyakan upaya pengembangan kurikulum, apapun yang
jenis ofprogram pendekatan. Dengan demikian, skor yang tinggi terhadap kinerja item penilaian baik harus menerjemahkan ke dalam kelas kinerja, allaying satu masalah besar dan kepedulian bagi menggunakan penilaian alternatif untuk mengidentifikasi underrepresented populasi, yang Mempekerjakan sebuah instrumen yang tidak
input daya untuk gifted program kinerja.

Alasan kedua penilaian kinerja mungkin alat untuk membantu identifikasi ini adalah penduduk yang domain-spesifik. Secara umum, ekonomi dirugikan berdiri populasi yang lebih besar peluang untuk dikenali oleh langkah-langkah yang menyerap tertentu jenis kemampuan, daripada yang membutuhkan kemampuan lebih umum reasoning. Khususnya, dengan menggunakan penilaian protokol yang menjadi PDAM verbal, matematika, dan kemampuan spasial, populasi ini lebih mungkin untuk ditemukan selama domain khusus kinerja juga dihormati di akhir proses seleksi dan kemudian dicocokkan dengan tepat untuk program intervensi.

Ketiga alasan untuk mencoba pendekatan ini adalah memberikan alternatif jalan oflooking pada kemampuan siswa melalui kontekstual kinerja. Item prototip dikembangkan tidak hanya mewakili lingkup ofthe domain dibawah belajar, mereka juga mewakili utama dalam modus berpikir bahwa domain. Itu penilaian menggunakan fitur manipulatives, kurangnya penekanan pada kecepatan, dan preteaching semu berkontribusi untuk mengoptimalkan kinerja berpengalaman untuk peserta didik. Tidak ada asumsi dari sebelum belajar, karena setiap memiliki prototipe preteaching dengan contoh, dan kecepatan telah menekankan dalam protokol. Penggunaan manipulatives memungkinkan alternatif jalan ke jepitan dengan masalah ini, juga.

Akhirnya, penelitian menunjukkan bukti bahwa secara ekonomis dirugikan dan minoritas lebih baik pada peserta didik melakukan tugas cairan yang lebih menekankan crystallized intelijen (Mills & Tissot, 1995) dan spasial reasoning melalui lisan dan matematika (Naglieri, 1999). Mempekerjakan oleh penilaian pendekatan yang mengandung komponen yang kuat spasial, disparitas antara nilai-oleh status sosial ekonomi (SES) atau tingkat suku juga dapat dikurangi (Bracken, 2000).

Tabel 1 merangkum berbagai fitur kinerja dan penilaian yang sesuai karakteristik terkait dirugikan dengan ekonomi dan minoritas gifted peserta didik. Hubungan antara penduduk dan tes fitur karakteristik yang kuat akan menyarankan cocok.

Mengembangkan Berbasis Kinerja Alat penilaian

Pilihan ofNonverbal prototip

Dalam rangka untuk mencari sesuai prototip yang mencakup baik matematika dan tata ruang spheres, serta bertemu dengan kinerja kriteria, para peneliti meninjau dan berkonsultasi berbagai sumber. Off-tingkat penilaian seperti sekolah Aptitude Test (Sabtu) telah diperiksa karena ini adalah ujian dirancang untuk memberi peluang siswa untuk alasan kedua spasial dan matematika konteks. Lainnya mencetak sumber berkonsultasi disertakan pada buku-buku yang berisi masalah contoh menarik masalah dan matematika permainan dan teka-teki. Ahli di bidang ofmathematics dan berbakat pendidikan disediakan prototipe ide dan referensi untuk lebih sumber daya. Guru SD melaporkan masalah situasi konten dan daerah yang diizinkan untuk melihat mereka khusus janji di beberapa siswanya. The Kurikulum dan Evaluasi dari Standarisasi Nasional dari Dewan Guru Matematika (1989) digunakan untuk membuat keputusan yang realistis tentang apa konten siswa harus tahu. Pada awalnya, tugas dikembangkan di bawah domain "matematika" dan lain-lain di bawah "spasial" domain. Akhirnya dua domain yang roboh di bawah satu "nonverbal" domain. Berdasarkan masukan dari semua sumber yang disebutkan di atas, berikut nonverbal prototip terpilih sebagai titik awal untuk tugas pembangunan:

*Arithmetic Problem Solving. Tugas ini didasarkan pada pengetahuan tentang fakta-fakta dan nomor tempat nilai, namun ditempatkan dalam konteks lanjutan masalah.
*Konsep Pajak. Tugas ini termasuk ratios, faktor dan Multiples, nomor perdana, dan lainnya wholenumber hubungan.

* Logic. Kuantitatif ditekankan di sini adalah alasan. Tugas sekarang dikenal memerlukan informasi dan kesimpulan berdasarkan informasi tersebut.

* Proporsional reasoning. Tugas ini didasarkan pada konsep rasio dan proporsi.
* Pola. Prototipe ini termasuk pengakuan, perpanjangan, deskripsi, dan analisis ofmany berbagai dari pola. * Teori Pajak. Tugas ini melibatkan faktor dan Multiples. * Spatial reasoning / Visualisasi. Ini prototipe termasuk berpikir tentang dan mewakili dua dimensi.

Dua dimensi dan tiga dimensi angka dan mengkonfigurasi
dan bergerak dalam bentuk pesawat.
* Spatial Patterning. Tugas ini meliputi menggambar kesimpulan
dari pola tata ruang.
* Geometry. Tugas ini menggunakan konsep dari daerah,
garis, dan pecahan bagian keseluruhan.
* Bahasa Inggris. Tugas ini melibatkan translations, rotations,
reflections, atau simetri.


Pilihan Verbal prototip


Sebagaimana dengan tugas nonverbal prototip, orang yang lisan juga muncul keluar ofa panjang pencarian ofseveral berbeda sastra sumber, review yang relevan sudah di uji item digunakan, lisan teka-teki dan permainan, dan sumber-sumber tenaga ahli yang terlibat reasoning lisan dalam pengajaran dan pemecahan masalah. Itu standar nasional dan
South Carolina standar bahasa seni juga konsultasi untuk memastikan bahwa persyaratan belajar mengajar di kelas adalah tingkat sebelum administrasi
Proyek STAR penilaian protokol. Berdasarkan tinjauan di atas, berikut lisan prototip diidentifikasi untuk perkembangan individu tugas:

Problem Solving lisan. Prototipe ini memerlukan siswa untuk membaca dan menafsirkan yang dipilih sesuai petikan untuk satu set petunjuk pertanyaan.

* Persuasive Menulis. Prototipe ini memerlukan siswa untuk tulis asli berdasarkan argumen tertentu prompt. * Analogies. Prototipe ini memerlukan pelajar untuk negara yang hubungan antara dua kata yang sesuai dan membuat analogi.

* Verbal Hubungan. Prototipe ini memerlukan siswa mengenali kata-kata yang serupa dalam bentuk dan untuk membedakan berarti di antara mereka.
* Banding Puzzle. Prototipe ini memerlukan siswa untuk membuat kata-kata baru yang diberikan dari kumpulan huruf.

* Verbal reasoning. Prototipe ini memerlukan siswa untuk daftar kelebihan dan kekurangan yang diberikan dunia nyata acara.


Kriteria Usedfor Tugas Pembangunan


Semua tugas di Proyek STAR bertemu inti yang menetapkan kriteria dihakimi oleh panitia acara penting yang akan bangunan di blok honoring target populasi dan
potensi kemampuan. Satu kriteria adalah penekanan pada pemikiran dan pemecahan masalah untuk mengeluarkan cairan, daripada crystallized, kemampuan dalam domain. Kedua kriteria ini adalah untuk mengembangkan tingkat tugas luar, orang yang akan menantang untuk tinggi kemampuan peserta didik. Ketiga kriteria terlibat penggunaan

Pembukaan terakhir format lebih kreatif untuk mendorong tanggapan dan cara berpikir. J keempat kriteria tersebut berkaitan dengan penggunaan manipulatives, strategi yang berguna dalam membantu siswa dalam "perhitungan out" keras terutama masalah dan disarankan untuk digunakan dengan risiko di-siswa (Ford, 1996; VanTassel-Baska, 1992). sebelumnya, kriteria dari "berpikir dibuat terlihat "telah diterapkan untuk setiap tugas dalam rangka mendorong siswa untuk mencerminkan pada pendekatan pemecahan masalah dan diri-benar sesuai kebutuhan. Melalui preteaching, siswa telah diperkenalkan ke ide dasar yang dibutuhkan untuk tugas agar "level playing field" didirikan dalam hal
dari isi pengetahuan. Selama tugas itu sendiri, siswa harus pergi ke luar dan pengetahuan dasar mempekerjakan pemecahan masalah dan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Penekanan pada andproblem berpikir-memecahkan kapasitas, bukan sebelum belajar. Preteaching model yang membantu untuk membentuk sebuah lingkungan dimana siswa yang tidak pernah terkena Khususnya untuk konten akan dapat menunjukkan kemampuan untuk memecahkan masalah. Dasar eksposur untuk beberapa elemen matematika dari kurikulum, seperti nomor fakta atau geometris bentuk nama, dan unsure bahasa seni kurikulum, seperti kata hubungan, menulis formulir, dan membaca
pemahaman ini dianggap oleh para peneliti.

Pada contoh matematika tugas "Krypto" (lihat Gambar 1), siswa diminta untuk memecahkan suatu masalah yang menantang diperlukan pengembangan strategi dan pengakuan pada pola keteladanan. Pengetahuan tentang fakta-fakta angka yang diperlukan sebagai prasyarat, tetapi yang benar-benar jantung tugas itu dalam pemikiran
banyaknya yang terbuka untuk memecahkan masalah-berakhir.

Dalam sampel lisan pada tugas humor (lihat Gambar 2), siswa harus menafsirkan dan menulis tentang gambar sesuai parameter yang spesifik. Seperti matematika tugas, adalah openended, namun memerlukan verbal reasoning diterapkan ke gambar
bahan untuk memecahkan masalah.

Karena penduduk bunga tinggi adalah kemampuan peserta didik, kriteria pengembangan "offlevel" tugas-tugas yang krusial. Kuasa tugas akhirnya menyimpankemampuan untuk berhasil dalam suatu diskriminasi dapat penduduk, sebuah prinsip ofidentification panjang dan advocated bekerja di identifikasi siswa berbakat (Lupkowski - Shoplik & Assouline, 1993; Stanley, Keating, & Fox, 1974).

The Krypto tantangan tugas menggambarkan bahwa tingkat tugas-tugas dirancang untuk mencapai. Walaupun tugas memberikan siswa kesempatan untuk merespons pada tingkat yang lebih sederhana yang memungkinkan solusi yang menggunakan hanya tiga atau empat dari lima nomor yang diberikan, bagian terakhir meminta semua solusi yang menggunakan lima angka. Dengan menggunakan satu maju dan buka-tugas berakhir, siswa tidak bahaya ofbumping di atas terhadap sebuah buatan plafon, yang umum dengan masalah-kelas tradisional di tes untuk siswa berbakat. Humor lisan dalam tugas, siswa memiliki peluang

Nama:
Tear selain angka-angka di atas kertas strip yang telah anda diberikan: 1, 5, 6, 4, 12, dan 8. Menggunakan beberapa atau semua ofthe pertama nomor
lima untuk mendapatkan jawaban dari 8. Anda dapat mengubah susunan angka-angka dan Anda dapat menggunakan Selain itu, pengurangan, perkalian, atau divisi. Tampilkan semua solusi
Anda dapat menemukan:

Menggunakan nomor 3:

Menggunakan 4 angka:

Menggunakan nomor 5

Gambar 1. Krypto.

Nama:
Buat lucu judul untuk gambar berikut dan menulis ayat yang jelas tentang gambar, menjelaskan mengapa it is funny.

Judul:


Keterangan:

Gambar 2. Tugas lisan pada Humornity

untuk menunjukkan kecanggihan mereka dalam berpikir melalui mereka menulis, sebuah pendekatan umum untuk menilai kemampuan reasoning (Paul, 1992). Selain itu, mereka didorong untuk menjadi fasih di ide-ide mereka dan untuk mewakili mereka dalam bahasa dijabarkan.

Buka-format berakhir. Semua tugas yang berakhir terbuka, baik
karena beberapa jawaban yang mungkin atau karena berbeda pendekatan untuk jawaban yang mungkin. Ketika kasus mantan berlaku, siswa diminta untuk menulis sebagai solusi banyak karena mereka dapat menemukan. Ini adalah aspek kefasihan diilustrasikan dalam Krypto tugas. It mendorong siswa untuk menemukan beberapa solusi di tiga tingkat kesulitannya. Hal ini tidak salah satu item di mana sebuah Tanggapan tunggal adalah dinilai benar atau salah. Siswa diberi kerangka kerja yang cukup lebar di mana mereka dapat menunjukkan bagaimana mereka juga dapat melihat pola. Humor lisan dalam tugas, mahasiswa harus membuat tanggapan yang ditulis sendiri devising. Beberapa tanggapan yang sama-sama dinilai efektif sebagai selama parameter dasar tentang masalah yang terhormat. Elaborasi dari respon juga didorong dan dihargai.

Penggunaan manipulatives. Salah satu perbedaan utama berbasis kinerja antara STAR tugas dan tradisional penilaian adalah penggabungan oftangible manipulatives
sebagai bantuan kepada siswa, terutama underrepresented populasi manfaat yang mungkin lebih konkrit dari pendekatan mencari solusi. Dalam sampel Krypto tugas, siswa diberikan nomor pada lembar kertas kecil yang dapat rearranged pada desktop untuk menguji berbagai kemungkinan solusi. Dalam tugas-tugas lainnya, seperti kertas manipulatives geometris bentuk, tegel persegi, counter plastik, dan kertas minyak yang diberikan kepada siswa. Mereka tidak diwajibkan untuk menggunakannya,
namun diberitahu bahwa mereka dapat menggunakannya jika mereka menginginkan. Di beberapa kasus, siswa yang digunakan kertas dan pensil karena dimanipulasi bahan-bahan untuk membuat solusi seperti diagram.

Humor lisan sementara tugas tidak menggunakan eksternal manipulatives, it does mempekerjakan figural dasar untuk sebuah masalah solusi. Kemenduaan yang dari angka yang lebih memungkinkan untuk kreatif rendering dari respon tanpa perantara peran bahasa dalam proses.

Penekanan pada artikulasi proses berpikir. Siswa tersebut diharapkan akan memberikan beberapa bukti pemikiran digunakan dalam proses mendapatkan solusi baik lisan dan matematika / spasial-visual tugas. Dalam beberapa tugas, mahasiswa diminta untuk muncul dalam kata-kata, gambar, atau simbol bagaimana mereka sampai mereka solusi. Dalam tugas-tugas lainnya, yang articulating solusi untuk masalah yang nonverbal dengan menulis it out merupakan bagian penting dari tugas. Contoh kasus ini adalah
Krypto tugas. Siswa diminta untuk tidak secara eksplisit menjelaskan pemikiran mereka, tetapi mereka yang diperlukan untuk menyatakan solusi dengan cara-cara yang menyampaikan makna kepada pembaca karya. Satu persamaan matematika atau kumpulan equations merupakan langkah solusi mungkin diberikan.

Karena sampel lisan memerlukan humor tugas tertulis Tanggapan, proses berpikir yang digunakan oleh siswa adalah terbukti sendiri. Namun, untuk meminta tambahan komentar tentang bagaimana mereka "pemikiran tentang" sebagai gambar lucu memerlukan lebih dari mereka memeriksa kapasitas untuk articulate ide-ide mereka.

Contoh pengembangan pra pembelajaran

Selain individu tugas pembangunan, maka peneliti juga dikembangkan khusus untuk tugas-tugas akibat wajar diajarkan kepada kelas yang tepat sebelum mereka melakukan penilaian. Biaya Feuerstein dari pada gagasan dinamis penilaian (dikutip dalam Kirschenbaum, 1998), tujuan preteaching kegiatan ini adalah untuk memberikan siswa pengalaman bekerja dengan prototipe kegiatan sebelum penilaian kebutuhan tugas yang diberikan. Melalui teknik ini, peneliti yang diberikan siswa dengan pengalaman item jenis agar siswa mampu dapat kinerja yang baik. Dengan menghapus sebuah blok sebelum belajar, siswa dapat menunjukkan dengan fasilitas belajar mereka. Dalam Krypto contoh, mahasiswa berurusan dengan masalah menggunakan nomor sementara tetap mempertahankan struktur prosedur. Humor dalam lisan contoh, siswa merespon yang berbeda dengan gambar yang sama menulis parameter diharapkan dalam penilaian tugas.

Pembangunan pada Rubrik dan Contohnya

Di rubric proses pembangunan juga terlibat yang seksama pelukisan dari berbagai tanggapan yang diperoleh pada 0-4 skala dari tinggi Tanggapan (4) rendahnya tingkat Tanggapan (0). Rubrik skor yang digunakan untuk membedakan mahasiswa kinerja sedemikian rupa sehingga siswa hanya menerima skor pertemuan atau melebihi 80% dari total nilai yang diberikan dalam domain yang akan dinilai tinggi kemampuan peserta didik. Sekali test uji coba data yang tersedia, satu set exemplars dikembangkan total poin untuk setiap nilai untuk membantu dalam memahami dan penskoran tugas. Terbaik untuk menentukan tugas masing-masing dibangun dan digunakan sebagai dasar untuk setiap rubrik skor. Sampel rubrics dikembangkan untuk Krypto humor lisan dan tugas dapat ditemukan pada Gambar 3.

Hubungan ke ofPrototypes Nasional Standarisasi dan Negara

Pada pilihan prototip, para peneliti dialamatkan daerah yang sudah menjadi siswa akan agak dekat. Tugas yang beralasan di daerah-daerah tersebut, tetapi diperlukan siswa untuk pergi melampaui batas normal harapan

Catatan penilaian:


Ada banyak kemungkinan tanggapan pada keterangan ini. Anda dapat mengurutkan rangkaian karya siswa dalam dua tumpukan (kuat vs lemah) dan kemudian menjadi empat macam tumpukan untuk menerapkan rubrik efektif.

Siswa dapat menulis sebuah analisis penjelasan mereka judul atau cerita lucu. Salah satu pendekatan harus menerima penuh kredit.

Catatan ke penilaian:
Memberikan 3 poin untuk setiap solusi 3-angka, 4 poin untuk setiap nomor 4 solusi, dan 5 poin untuk setiap 5-nomor solusi.
Beberapa kemungkinan solusi untuk:








5 kartu

(6+12) – (1+5+4) = 8

(12+5+1) – (6+4) = 8


Gambar 3. Contoh rubrics.


dengan menggunakan dasar pengetahuan konten sebagai dasar untuk tingkat lebih tinggi,buka-masalah berakhir. Mengingat jumlah besar waktu tertentu (misalnya, empat setengah jam dan per siswa) yang ditujukan untuk grup administrasi STAR tugas guru reassured dari pendidikan nilai dari waktu yang dihabiskan ketika mereka melihat bagaimana tugas-tugas yang merupakan perpanjangan dari konsep dan kemampuan siswa yang telah atau akan terkena di kurikulum reguler. Namun, harapan untuk performa dan tingkat permintaan tugas yang cukup baik lebih tinggi untuk tugas-tugas STAR.

Tiga dari overarching strands dari NCTM Termasuk standar "Matematika sebagai pemecahan masalah" "Matematika sebagai alasan," dan "Matematika sebagai Komunikasi. "Ini adalah sesuai dengan kriteria yang diatur untuk tugas pembangunan. Tabel 2 menunjukkan link lainnya antara tugas dan prototipSouth Carolina adaptasi dari Kurikulum dan Evaluasi Standardsfor Matematika Sekolah (NCTM, 1989).

Seni dalam bahasa daerah, standar untuk Selatan Carolina juga cukup baik sesuai dengan prototip Verbal reasoning Verbal hubungan dipilih. Tabel 3 menggambarkan hubungan ini.

Hubungan ini dari prototip dengan standar menunjukkan sebuah koneksi yang ditujukan ke kurikulum dasar diharapkan akan diajarkan di South Carolina ruang kelas. Meskipun setiap tugas membuktikan Mei novel untuk siswa, proses yang mendasari mereka harus membuktikan menjadi agak akrab, berdasarkan kelas pelaksanaan dari standar-standar. Penggunaan Komite dan Konsultan Collaborative untuk Pembangunan Proses untuk pengembangan Proyek STAR kolaboratif yang sangat baik dan conceptualization eksekusi. South Carolina ofgifted koordinator program dan guru, University of South Carolina profesor, dan departemen pejabat negara yang terlibat dalam semua tahap dari proses. Keputusan tugas kelompok kerja nomor 25, dengan lebih dari 100 personil tambahan yang terlibat dalam pelaksanaan. percontohan dan uji koordinator lapangan, yang merupakan daerah koordinator program gifted program dan districtwide koordinator penilaian, spearheaded-negara di dalam bekerja, yang terlibat (1) mengorganisir sebuah panitia wakil negara dan penjadwalan pertemuan; (2) mengatur
koordinasi dan pelatihan bagi staf di kabupaten administrating penilaian protokol; (3) mengorganisasikan scoring tim, pelatihan mereka, dan melaksanakan proses dan (4) mengirim data ke universitas untuk diproses. Seorang profesor menjabat sebagai konsultan untuk mengawasi semua pelaksanaan prosedur, sedangkan yang kedua profesor dianalisa semua uji coba berbagi data dan hasil pada rapat panitia acara. Pejabat negara departemen menjabat sebagai konsultan pada masalah negara ofcurriculum, pengujian, dan gifted program aturan dan peraturan yang berlaku. Mereka juga sangat berkontribusi untuk semua logistik diskusi terkait dengan kelayakan dan utilitas dari proses penilaian di sekolah kabupaten negara.

Pada College ofWilliam dan Maria, proyek staffwas terdiri dari dua profesor, yang menjabat sebagai direktur dan kedua sebagai koordinator; sebuah instruktur pada perguruan tinggi dan pakar dengan kurikulum yang Pusat menjabat sebagai koordinator tugas pembangunan; dan dua doktoral siswa yang dibantu di semua tahapan dari pekerjaan. Satu doktoral siswa mengambil tanggung jawab untuk mengatur database dan sistem untuk pengumpulan data dan melakukan entri untuk tes pilot, sedangkan yang kedua adalah integrally terlibat dalam pengembangan dan perbaikan dari 80 tugas, rubrics, angka, dan administrasi penjuru.

Umpan balik dari kelompok yang relevan pada setiap tahap dari proyek penting untuk membuktikan keberhasilan. Sebagai contoh, umpan balik dari panitia acara yang disediakan pada setiap tahap data penting untuk midcourse koreksi relevan dalam proses dan prosedur. Tugas-komite pengembangan memberikan wawasan ke dalam antarmuka antara item prototipe dan dunia nyata-sekolah administrasi yang prototipe.
Komite juga petunjuk staf dalam berpikir dan rethinking prototip berdasarkan kriteria lain, juga. Tanggapan dari guru yang administratif penilaian adalah penting untuk revisi dari tugas, sementara umpan balik dari scorers melayani untuk meningkatkan rubrics scoring dan penjuru. Analisis data dari try-out tahap itu ke pusat keseluruhan proses revisi untuk bekerja karena pekerjaan staf proyek diperbolehkan untuk menghapus beberapa prototip dan memperbaiki lain, serta untuk merombak struktur penilaian
untuk mengakomodasi dunia nyata-kendala administrasi.

Dari temuan Lapangan Uji Tahap ofthe Proyek

Pada tahap uji lapangan, Proyek STAR penilaian instrumen yang digunakan dengan penduduk hanya ditujukan (i.e., bertemu dengan seorang siswa yang screening ambang). Dari 1.792 dinilai siswa di 28 kecamatan, 518 (28%) memenuhi kriteria cutoff dari 80% atau lebih tinggi pada baik lisan atau komponen yang nonverbal. Dari 518 siswa ini, 60 adalah African American, mewakili 11,6% ofthe sampel yang berkualitas. Lain 5% dari kelompok minoritas lainnya juga memenuhi syarat. Di antara siswa yang secara ekonomis dirugikan, seperti yang ditentukan oleh bebas atau status dikurangi makan siang, persentase yang lebih tinggi telah diidentifikasi: 77 siswa, atau 14,9% dari sampel. Jelas, Proyek STAR instrumentasi protokol mampu meneruskan siswa yang lebih melalui praktek-praktek yang ada negara yang bekerja lebih tinggi di ambang cutoffs tradisional kemampuan langkah-langkah dan prestasi.

Diskusi

Temuan ini menunjukkan bahwa hati-hati dan dibangun instrumen penilaian kinerja diuji mungkin satu menjanjikan kesempatan untuk melanjutkan di locating baik dan baru underrepresented populasi untuk gifted program. Ia juga Adalah penting untuk diingat, namun, yang lebih kecil dan berpenghasilan rendah siswa baru yang ditemukan oleh turunkan kriteria screening ke 90. perseratus di dalam kelas mengukur kemampuan standar atau 94. perseratus pada sebuah dalam pencapaian standar nilai-nilai baik dalam membaca atau matematika. Dengan demikian, siswa dapat underrepresented efektif
terletak pada pekerjaan fleksibel yang ada standar peralatan. Misalnya, African American siswa yang menjadikan cutoff untuk pertimbangan di bidang pengujian dilantik 23% dari seluruh grup, yang menyatakan bahwa besar jumlah underrepresented siswa sangat dekat dengan skor yang lebih tradisional di berbagai tindakan.

Meskipun hasil temuan yang menjanjikan dari perspektif benar-benar berbeda dari locating kelompok anak-anak, penggunaan ofthis pendekatan penilaian juga menimbulkan masalah baru dan kekhawatiran. Salah satu yang harus dilakukan dengan pemrograman. Sebagai membaca peraturan saat ini, semua siswa berbakat untuk dipilih program di South Carolina menunjukkan bukti tinggi berfungsi pada umumnya mengukur kemampuan intelektual. Untuk siswa dipilih oleh Proyek STAR, daerah mereka yang tinggi berfungsi mungkin telah dinilai dalam domain baik dari lisan atau nonverbal. Perbedaan ini membawa Mei. implikasi untuk kelas praktek. Siswa yang tinggi
lisan di daerah-daerah perlu gifted program yang berdasar pada seni yang lisan, sedangkan orang-orang yang tinggi dalam matematika dan tata ruang daerah perlu setaraf program. Guru perlu pelatihan dan dukungan untuk membantu dalam regu dari
penekanan program dan seiring kebutuhan untuk lebih disesuaikan kurikuler intervensi. Selain itu, seperti siswa juga harus dipertimbangkan untuk nilai-lainnya
ditambahkan pilihan mereka dalam program ini, seperti penekanan lebih besar interaksi pada strategi, kegiatan sintesis, analogi reasoning, kreatif dan pendekatan untuk pelaksanaan kurikulum
(VanTassel-Baska, 1992).

Kedua menetapkan ofissues revolves sekitar pelaksanaan Proyek STAR protokol. Penggunaan kinerja tindakan saat ini sangat intensif dan melibatkan banyak orang
baik dalam proses administrasi dan scoring. Sebenarnya waktu administrasi bagi siswa yang juga lebih dari khas tradisional untuk menguji tindakan; tugas mengambil
kira-kira dua dan satu setengah jam. Namun, dengan preteaching, waktu itu diperpanjang dua tambahan jam, sehingga necessitating administrasi di dua hari. Guru dan administrator di daerah kabupaten harus terlatih dalam proses penilaian ofpreteaching ke10-12 prototip berbeda dan kemudian dilatih di sebenarnya penilaian administrasi. Gunakan ofmanipulatives bagi banyak ofthe item juga karena complicates administrasi guru harus mengeluarkan individu set manipulatives untuk setiap tugas.
Semua ofthese masalah yang memerlukan investasi besar dalam oftime
proses alternatif ini.

Set ketiga terletak masalah dengan tantangan pembangunan seperti penilaian. Peneliti mencoba seperti proyek harus memiliki keahlian giat dalam kedua tes pengembangan dan perbedaan dari kurikulum bagi peserta didik berbakat. Selain itu, sebenarnya pengembang harus kuat domainspecific keahlian. Kedua pengembang untuk terus Proyek STAR gelar master dalam matematika dan bahasa Inggris, masing-masing,
dan memiliki pengalaman mengajar, tutoring, dan pelatihan siswa di daerah-daerah. Keahlian seperti itu sangat penting kerajinan tangan di tingkat off-tugas yang cukup menantang untuk siswa berbakat dalam bidang tertentu ini belajar.

Pembangunan protokol, seperti administrasi, juga sangat waktu. Dua tahun adalah waktu yang minimal untuk dapat mengembangkan, mencoba, pilot, dan bidang tes potensi item. Incremental pembelajaran dan wawasan baru terjadi pada setiap tahap pengembangan dan item revisi. Ini pada akhirnya meningkatkan keseluruhan protokol, namun masing-masing tahap proses yang sangat menantang.

Akhirnya, perlu dicatat bahwa mendirikan teknis kecukupan untuk penilaian kinerja protokol mewakili lapisan kompleksitas lain. Walaupun kinerja berbasis protokol mendekati ,80 kehandalan di dalam domain dan tingkat performa yang baik pada konten dan yg berbarengan Validitas tes, seperti hasil yang membeli hanya setelah banyak perbaikan dalam proses instrumentasi. Interrater keandalan antara scorers, didokumentasikan pada kesimpulan gol pelatihan, juga muncul untuk administrasi negara
di tingkat ,90 setelah banyak revisi ofrubrics, set terbaik, exemplars dan pada tahap awal pembangunan.

Kesimpulan dan pengertian mengenai suatu Negara


Penilaian kinerja protokol yang dikembangkan untuk South Carolina Mei melayani sebagai model untuk negara-negara lain dan sekolah di kabupaten mereka mencari alternatif penilaian pendekatan untuk mengidentifikasi para siswa berbakat. Namun, masalah waktu dan sumber daya harus dipertimbangkan dalam terang hasil yang diperoleh. Efektivitas seperti protokol dimaksudkan untuk menggunakan muncul menjanjikan, namun efisiensi tetap menjadi perhatian bila dibandingkan dengan lebih tradisional pendekatan untuk identifikasi. Tetap akan terlihat jika bidang pendidikan gifted akan berinvestasi sumber daya dan waktu yang diperlukan untuk mempekerjakan seperti pendekatan lainnya locales dan apakah guru akan menggunakan data yang diperoleh dalam kuat cara untuk meningkatkan pembelajaran siswa untuk dipilih.
Dampak Proyek STAR di South Carolina's identifikasi sistem telah mendalam. Diterima oleh negara panitia acara, Proyek STAR performancebased penilaian protokol sekarang merupakan salah satu bagian resmi negara identifikasi model. Sudah kedua
administrasi negara telah dilakukan, penurut lebih dari 7.000 calon mahasiswa untuk pengujian. Siswa rapat kriteria berbasis kinerja untuk pengujian dan kualifikasi gratis dan makan siang dikurangi mewakili 33,6% dari renang, sedangkan siswa minoritas diwakili 23,6%. Ini persentase, 18,1% dari pendapatan siswa rendah dan 12,6% dari minoritas siswa untuk layanan berkualitas di bawah Proyek STAR protokol. Hal ini diantisipasi itu, masing-masing dengan administrasi, dibandingkan persentase populasi underrepresented siswa yang berbakat dapat diidentifikasi.

Hasil positif dari pembangunan ini untuk daerah kabupaten termasuk reorientation guru ke karakteristik dan kebutuhan ini kurikuler siswa, sehingga heightening kesadaran akan kebutuhan untuk merubah ruang kelas praktek yang sesuai. Gifted pedagogi dan praktek terbaik sastra telah espoused seperti perilaku guru untuk beberapa
waktu. J pemasukan lebih besar dari beragam peserta didik berbakat akan mandat
perubahan dalam praktek instruksional untuk mempromosikan siswa sukses. Seperti guru reorientation dalam strategi membawakan dengan janji untuk meraih prestasi yang lebih tinggi di semua tingkat dari pendidikan kontinum.

Proyek ini juga telah membawa pasukan negara di gifted pendidikan dekat bersama-sama terus-menerus dalam suatu hubungan kerja. Koordinator lokal program pertama melihat masalah terlibat dalam penggunaan alternatif penilaian dan hakim dapat
nilai mereka dalam perencanaan program. Guru mendapatkan khusus wawasan ke dalam bagaimana masing-masing siswa menanggapi berbagai tugas. Administrator negara berada dalam posisi untuk tetap berkomunikasi lokal dengan keprihatinan tentang masalah ini dan memberikan teknis dukungan yang diperlukan. Karena proyek telah sangat kolaboratif di banyak tingkatan, ambang yang berakal tentang gifted siswa, sesuai tingkat kurikulum, dan penilaian alternatif yang sangat meningkat. Negara sedang berlangsung upaya untuk terus bekerja sama dengan sekolah di daerah uji coba, administrasi, dan scoring Project STAR instrumen oleh internal tim konsultan akrab dengan negara gifted program. Ini pembangunan presages baik positif untuk perbaikan dalam mekanisme penyampaian program kepada siswa, serta kelancaran

transisi dari proyek untuk tetap dan pelaksanaan negara yang sedang berlangsung.

Daftar Pustaka


Baker, EL, Abedi, J., Linn, RL, & Niemi, D. (1996). Kematraan dan generalizability ofdomain-independen penilaian kinerja. Jurnal Penelitian ofEducational, 89, 197-205. dst.