Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) harus mendukung pendidikan layanan khusus. Program ini diprioritaskan untuk anak usia sekolah di lokasi bencana, pulau atau desa terisolir, anak-anak dari keluarga sangat miskin, terbelakang, dan tidak punya orangtua. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Tobias Uly di Kupang, Sabtu (11/10) mengatakan, pendidikan layanan khusus diprioritaskan bagi anak-anak termarjinal. Mereka yang selama ini tidak mendapat pelayanan pendidikan sama sekali karena berbagai persoalani. "NTT anak-anak kelompok marjinal ini cukup banyak, selain karena kemiskinan juga kondisi wilayah kepulauan yang sangat sulit dijangkaui. Saat ini sedang dilakukan sosialisasi kepada masyarakat agar mereka proaktif memberi kesempatan kepada anak-anak untuk mengikuti program ini,"katanya. Peluncuran program ini untuk membantu kelompok masyarakat usia sekolah dasar yang selama ini tidak pernah tersentuh pendidikan. Diharapkan program ini dapat mengatasi kasus buta aksara di NTT yang sampai saat ini mencapai 300.000 lebih. Pendidikan bagi anak anak yang tergolong marjinal tidak dipungut biaya seperti sekolah formal. Guru-guru yang mengajar, adalah guru negeri. Proses belajar mengajar disesuaikan dengan kondisi dan tempat tinggal para calon siswa. Pendidikan ini juga mengeluarkan ijazah yang sama seperti sekolah formal. Tetapi jenjang pendidikan layanan khusus hanya berlaku bagi tingkat sekolah dasar, dan masuk SMP mereka sudah bisa bergabung di sekolah formal. Diutamakan dalam pendidikan ini adalah keterampilan siswa untuk bisa menulis, membaca dan menghitung. Dengan modal ini mereka bisa lanjut ke SMP, dan tidak masuk kategori buta aksara lagi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Surabaya, Aktual.com —Hadir di Surabaya, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengunjungi tempat Panti Asuhan Matahari Terbit yang merupakan balai pertolongan ibu dan anak.
BalasHapusSaat masuk ke kamar-kamar, Khofifah pun dikejutkan banyaknya bayi yang dirawat dan dibesarkan di panti tersebut. Maklum, bayi-bayi tersebut adalah bayi yang tidak diinginkan kelahirannya oleh orang tua lantaran lahir diluar nikah.
“Ini adalah adalah anak-anak yang terlahir dari kehamilan yang tidak diinginkan. Bahkan sudah ada anak SMP yang inden mau menyerahkan bayinya. Bukan menitipkan, tetapi menyerahkan bayinya,” ujar Khofifah dengan nada yang sedih, Minggu (2/8).
Menteri Khofifah: Jutaan Bayi ‘Tidak Dinginkan’ Lahir