27 CARA MENANGANI EMOSI ANAK
A. BERBICARA TENTANG EMOSI
Emosi..!!! sepertinya kata-kata itu sering kali kita dengar atau bahkan sangat dan amat sering sekali kita dengar, serasa ada disetiap ruang lingkup suasana di keseharian kita. Emosi ini seakan terus mengikuti kemana kaki ini melangkah, dan hebatnya lagi Emosi tidak mengenal waktu dan tempat apalagi jabatan atau kedudukan. Emosi juga dapat menyerang siapa saja tanpa mengenal usia, dimana, saja dan kapan saja. Baik tua, muda, laki-laki ataupun perempuan bisa terkena serangan ini.
Seperti kita juga orang dewasa, setiap anak juga memiliki kecenderungan berbeda dalam mengelola emosinya. Ya… menurut seorang pakar anak Steve Biddulph, “ emosi adalah bagian dari sensasi tubuh yang sangat menonjol dan terasa seperti yang kita rasakan dalam situasi tertentu.” Menurut beliau juga bahwa kadar emosi ini dapat berkisar mulai dari yang sangat lemah hingga yang sangat kuat, dan hal ini dapat tergolong menjadi empat emosi dasar yang kita dan anak-anak selalu alami yaitu marah, takut, sedih dan gembira.
Selain itu juga sering timbul emosi-emosi lain yang senantiasa muncul dalam kehidupan kita dalam kesehariannya, yaitu diantaranya rasa cemburu yang merupakan campuran dari emosi takut dan marah atau keharuan ketika nostalgia ini juga merupakan salah satu bentuk emosi yang tercampur dari emosi gembira dan sedih.
Setelah kita berbicara tentang emosi, maka dapat dikatakan bahwa sebenarnya emosi itu merupakan sebuah keniscayaan, Mengapa dikatakan keniscayaan...? karena dalam melakukan setiap aktivitas kita tidak mungkin terlepas dari adanya emosi, meski terkadang tidak kita sadari. Sesungguhnya emosi merupakan karunia “ Sang Pencipta” yaitu Allah SWT yang telah diberikan kepada kita bersamaan dengan akal dan pikiran. Emosi juga merupakan tampilan dari jiwa dan ruh seseorang, Mengapa dikatakan demikian…? contonya saja ketika seorang anak sedih maka bersamaan dengan itu maka iapun akan mengeluarkan tangisan yang merupakan bagian dari ekpresi jiwanya.
Pada haikatnya setiap emosi dasar memiliki kegunaanya masing-masing andai saja kita mampu untuk mengelolanya dengan bijak sesuai dengan kebutuhan, sebagai contoh biasanya kita sering mengumpamakan salah satu emosi seperti marah dengan api, api saja kalau dikontrol dengan baik maka akan sangat bermanfaat bagi manusia contohnya kompor dengan nyala apinya yang sudah diatur besar kecilnya dapat membantu kita untuk memetangkan makanan. Akan tetapi jika api itu berkobar diluar batas atau kendali maka yang akn terjadi justru kebalikannya yaitu akan merugikan manusia, contohnya kebakaran yang saat ini sering terjadi khususnya di daerah padat penduduk, dan kerugian yang dialami bukan saja materil tetapi nyawa juga bisa melayang karenanya. Untuk itu marah juga bila kita kelola dengan baik maka akan mempertahankan kebebasan, kebenaran atau hak-hak kita. Dengan sedikit arahan dan latihan maka amarah akan dapat terkendali dengan baik.
Oleh sebab itu setiap orang juga harus memiliki emosi, coba saja bayangkan jika setiap orang tidak memiliki emosi, contohnya saja ketika seorang anak memecahkan gelas lantas orang tua hanya melihat dan berbicara “ gelasnya pecah ya…, sudah biar nanti ibu bereskan, kamu main saja lagi” tanpa sedikitpun menanyakan “kenapa gelas itu bisa pecah atau tadi apa yang sedang dilakukan..?” kalau saja setiap orang tua bersikap seperti itu maka yang akan terjadi adalah anak tidak akan mengerti akan konsekuensi dari perilakunya, bahkan anak akan merasa bahwa perbuatanya benar dan cenderung akan mengulanginya lagi.
Mungkin terkadang kita bingung melihat seorang anak yang menangis hingga berjam-jam atau bahkan menangis sambil berguling-guling dan melemparkan benda apa saja yang ada disekitarnya. Lalu kita berpikir apakah itu benar-benar merupaka ekspresi jiwa yang dirasakan anak itu ? ataukah hal itu hanya sebuah rekayasa atau aksi pura-pura dari si anak tersebut. Sesungguhnya anak memiliki naluri layaknya seperti orang dewasa, yang akan berpikir dan bertindak bagaimana cara agar keinginannya dapat terwujud atau dikabulkan atau sebaliknya bagaimana agar dapat menghindar dari sesuatu yang tidak ingin ia kerjakan, bahkan cara yang dipakai anak-anak lebih ekstrim dari orang dewasa.
Emosi yang tidak stabil menandakan adanya penanganan yangkurang tepat pada anak. Ada yang berpikir bahwa mgeurus anak itu harus keras agar orang tua tidak mudah dilecehkan oleh anaknya, bahkan sampai-sampai tidak ada kompromi lagi. Ayah dan ibu dijadikan sebagai pusat komando dan anak tidak pantas untuk dimintai pendapatnya. Tapi disi lain ada juga orang tua yang selalu menuruti keinginan anaknya. Anak diibaratkan seperti raja, ingin ini, ingin itu selalu dituruti padahal barang diminta tidak memiliki manfaat yang berarti, pokoknya semua yang diminta pasti dikabulkan karena menurut mereka yang terpenting adalah anak bisa senang.
Jika kita melihat dari kedua kondisi seperti ini, lalu strategi manakah yang baik dan tepat dalam menangani emosi anak ? strategi pertamakah atau strategi yang kedua. Sebenarnya tak usah bingung dengan metode yang pertama ataukah yang kedua, karena sesungguhnya jika kedua metode itu dikombinasikan serta dipakai sesuai dengan situasi dan kondisi maka akan tepat digunakan untuk menangani emosi anak yang kelepasan. Ketegasan dalam bertindak sangat dibutuhkan tetapi juga tidak meninggalkan kelembutan dalam berbicara.
Cara penanganan yang nyaman pada anak adalah mengkombinasikan ketegasan dan kelembutan pada anak yaitu dengan 3 cara sbb :
1. Tanyakan langsung apa yang harus dilakukan ketika terjadi masalah.
2. Setelah anak melakukan konsekuensi dari perilakunya dan sudah tenan, persilahkan anak untuk mengambil kesimpulan.
3. Berikan ciuman dan pelukan sebagai tanda bahwa masalah sudah selesai.
Kecerdasan emosional mencakup pengendalian diri, semangat dan ketekunan, serta kemampuan anak untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi. Seringkali anak lebih banyak mendapatkan cacian, omelan daripada pujian dan kata-kata positif. Bahkan seringkali anak menjadi sasaran kemarahan orang tua akibat beban pekerjaan atau sisa pertengkaran antar ayah dan ibu.
Frustasi sangat dekat dengan kehidupan anak-anak. Sehingga kesanggupan anak untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi akan mengalami kelambatan. Dan yang lebih fatal lagi anak juga akan sulit mengatur suasana hati dan menjaganya agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir. Agar anak mengalami peningkatan pada kecerdasan emosinya, orang tua harus berperan aktif mendidik putra dan putrid kesayangannya. Sekolah saja tak cukup mengontrol stabilitas emosi anak, orang tua jangan merasa aman terlebih dahulu walaupun sudah memasukan anaknya di sekolah yang berkualitas. Orang tua sebaiknya menjadi pelatih emosi anak.
Coba ciptakan suasana rumah yang menyenangkan seperti mengedepankan komunikasi dua arah dengan anak. Jadilah pendengar baik jika anak sedang menceritakan pengalamanya. Luangkan waktu bersama anak walau singkat, fokuskan pertemuan pada kualitas bukan kuantitas. Lima menit mendengarkan keluhan anak lebih berharga daripada satu jam berceramah kepada mereka. Jangan sungkan meminta maaf kepada anak bila kita melakukan kesalahan. Fakta membuktikan dengan pendekatan tersebut anak akan lebih percaya diri,serta mudah dalam mengendalikan emosinya, memiliki kekuatan berpikir yang besar dalam memecahkan persoalan.
B. MENANGANI ANAK PEMALU
Sikap malu-malu pada anak,menurut anggapan kita, mungkin membuat mereka tampak menggemaskan. Tapi bila sikap itu menetap dalam diri mereka sampai dewasa maka akan menjadi kelemahan yang merugikan. Sikap malu-malu terbentuk oleh situasi campuran antara ketidaksengajaan ( accident ) dan pengkondisian ( conditioning ). ada juga kejadian malu dalam bentuk lain yang kita semua pernah mengalami atau terlibat dalam suatu situasi bersama orang lain dimana kita menjadi panik dan seperti tak bisa berbicara apa-apa. Situasi yang sama dialami juga oleh anak-anak.
Ada sebagian anak pemalu yang sebenarnya adalah anak yang percaya diri, tidak berani mencoba dan malu melakukan kesalahan atau tidak berani malu. Ada lagi anak pemalu yang pada dasarnya takut melihat berbagai kejadian. Karena anak ini jarang dibawa keluar rumah atau dperbolehkan bermain dengan temannya sehingga ketika ada yang aneh, anak menjadi ketakutan. Model anak pemalu lainnya adalah anak yang orang tuanya sering mengambil alih apa saja yang dikerjakan anaknya, memakaikan anak pakaian sementara anak sebenarnya sudah mampu melakukannya sendiri atau mengganti pakaian yang sudah dipilih anak, menjadi juru bicara anak ketika ada orang lain yang bertanya pada anak. Anak akan menangkap pesan bahwa apa yang dikerjakannya tidak berharga. Anak menjadi pemalu karena ia tidak memenuhi standar orang tuanya.
CARA 1
Pelatihan Karakter
Anak-anak yang belum nyaman dengan dirinya biasanya lebih memilih untuk menyendiri karena lebih aman. Untuk anak mau membuka dirinya kepada orang lain diperlukan dorongan dari dalam diri atau inisiatif. Sayangnya, anak yang kurang mandiri biasanya belum memiliki inisiatif. Kegaitan-kegiatan yang mudah akan membuat anak merasa sukses. Rasa sukses akan membantu anak merasa mampu. Rasa mampu atau rasa bahwa ia dapat melakukannya akan membantu meningkatkan kemandiriannya. Hal ini juga membantu anak merasa positif dengan dirinya karena ternyata banyak hal yang dapat ia lakukan.
Tidak hanya itu orang tua yang terlalu banyak mengkritik atau selalu berkomentar negatif juga akan membuat anak merasa tidak nyaman dengan dirinya karena anak akan merasa tidak ada yang dapat ia lakukan yang mendapatkan penghargaan orang tuanya. Jadi pada intinya setiap anak harus kita bantu untuk menemukan karakter dirinya, agar dia memiliki kepercayaan diri yang dalam mlakukan setiap aktivitasnya. Sehingga anak dapat mengontrol sebatas apa kemampuannya dan dapat mengatur emosinya dengan lebih baik.
CARA 2
Mendampingi Tanpa Menggurui
Banyak orang tua di rumah yang terlalu instruktif dengan alasan melatih disiplin. Ibunya terkesan sudah pandai membaca kebutuhan dan keinginan anak dan mengatur semua hal dilakukan anak, akibatnya anak menjadi tidak terbiasa mengungkapkan keinginannya, untuk masalah yang seperti ini hal pertama yang harus dilakukan yaitu melatih anak dengan cara memberikan rasa nyaman untuk member keyakinan pada anak bahwa anak boleh mengungkapkan perasaanya dan guru memberi keyakinan bahwa minimal keinginannya akan didengarkan,
untuk itu guru perlu beberapa waktu melakukan pendekatan pada anak hingga anak merasa nyaman dengan begitu anak akan dapat menunjukan bahasa tubuh yang rileks. Otak besarnyapun akan akan bekerja dan akan lebih mudah mengatasi rasa malunya.
Ketika anak sudah mulai dapat mengatasi rasa malunya, biasakan orang tua dan guru memujinya dengan kata hebat, akan tetapi jangan sampai mengajarkan anak untuk melakukan sesuatu karena ingin menyenangkan orang lain, latihlah anak untuk melakukan sesuatu yang memang benar-benar ia senang melalukannya bukan karena ingin menyenangkan orang lain, jika motivasi seperti ini benar-benar diterapkan dalam dirinya atau dibangun dengan baik maka motivasi ini merupakan motivasi yang benar-benar berasal dari dalam dirinya (internal) bukan eksternal (yang berasal dari luar atau dorongan dari orang lain). Karena pada hakikatnya sebuah motivasi yang berasal dari dalam diri seseorang akan dapat mewujudkan sikap keberanian diri dalam perilaku sehari-hari yang lebih lama atau lebih bertahan bahkan hingga dewasa,
Karena jika motivasi yang dibangun hanya karena dorongan orang lain maka akan rentan sekali dengan kebosanan atau lebih cenderung pada pemberontakan, atau pelarian karena lama-kelamaan mulai terasa jenuh dan bosan. Untuk iu sebagai orang tua dan guru harus membantu dan memberikan kebebasan anak untuk melakukan sesuatu sesuai dengan motivasinya.
CARA 3
Membongkar Belenggu dengan Penyambutan Anak
Banyak orang tua yang tidak terlebih dahulu menyiapkan anaknya untuk siap menjadi siswa kelas satu sekolah dasar. Ada perbedaan sikap yang cukup mendasar antar guru TK dan guru kelas satu. Guru TK biasanya lebih sabar dan merasa lebih memilki waktu yang lebih banyak untuk memotivasi siswanya untuk melakukan ini dan itu, sedangkan guru sekolah dasar yang umumnya memiliki jumlah siswa yang lebih banyak dan target kurikulum yang lebih padat, akan membuat guru menjadi kurang sabar dan kurang dapat bertoleransi terhadap anak yang lambat dan anak-anak yang pemalu (kurang dapat mengungkapkan perasaan atau kebutuhanya).
Rasa malu dan takut membuat anak akan berpikir dengan batang otak reptilnya. Sehingga memerlukan waktu untuk mencairkan suasana dulu sampai hilang rasa takutnya dan digantikan dengan rasa nyaman dan aman hingga anak itu sudah dapat tersenyum. Karena dengan tersenyum itu menandakan bahwa otak yang digunakan bukan lagi otak reptile tetapi otak besar. Dengan begitu anak akan mulai berani dan dapat menyampaikan apa keinginannya, kare otak besar sesungguhnya memilki fungsi untuk berpikir kreatif.
Jadi jangan pernah membelenggu anak dengan segala keotoriteran kita, kita harus membuang belenggu itu dengan baik ketika sedang bersama anak, jangan sampai membuat merasa terkekang dan tidak bebas, karena jika itu terjadi anak akan senantiasa merasa takut untuk menyampaikan atau mengutarakan apa isi hatinya selain itu anak juga akan kesuliatan untuk bergaul dengan sahabat atau teman sebayanya, dan menjadi tidak mandiri berinisiatif karena segala sesuatunya sudah diatur oleh orang tuanya, dalam hal ini yang perlu orang tua lakukan adalah melakukan totalitas gerak dengan anak dan memberikan kebebasan anak untuk memilih dan melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya namun tetap dalam koridor yang baik, sehingga anak tidak akan merasa sungkan, takut atau malu-malu lagi bersama kita.
CARA 4
Pendekatan Tanpa Sekat
Pada dasarnya setiap anak itu memilki karakter yang berbeda dengan anak yang lain, dengan begitu cara penanganannya pun harus berbeda. Hal seperti ini umumnya dipengaruhi oleh gender (jenis kelamin), umur, asal daerah, pola asuh orang tua, tingkat ekonomi, dan yang tidak kalah penting adalah lingkungan.
Dalam hal ini kita akan kembali membahas karakter seorang anak yang memiliki sifat minder, sekali lagi rasa minder atau tidak percaya diri akan membuat anak menjadi tidak dapat melihat hal-hal positif yang ada didalam dirinya. Rasa tidak berharga ini akan menghambat anak untuk dapat tersenyum dan berpikir kreatif menyalurkan segala aspirasi yang ada dalam pikirannya, ketika seorang anak sedang mengalami emosi yang negatif maka sesungguhnya yang bekerja adalah otak reptilnya.
Layaknya reptil, bagian otak ini hanya dapat berpikir tentang dua hal ketika menghadapi sebuah situasi yang tidak diseukainya yaitu melawan atau kabur, akan dalam hal ini seorang anak akan lebih cenderung untuk memilih menyendiri serta berbicara sendiri dengan bonekanya. Seperti yang tadi telah dijelaskan pada halaman sebelumnya bahwa dalam menangani anak yang berkarakter seperti ini hal pertama yang harus dilakukan adalah menghilangkan terlebih dahulu belenggu otak sebelum otak besarnya dapat bekerja.
Salah-satu cra yang dapat dilakukan yaitu dengan memberikan kegiatan-kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan status sosial anak atau hal apapun yang saat itu sedang menjadi masalah bagi anak itu sendiri. Dan pada intinya anak perlu dilatih untuk lebih sibuk dalam hal memperhatikan kemampuannya bukan pada status atau hal lain sehingga ia tidak akan terbelenggu lagi dengan hal yang sifatnya fisik atau status. Karena sesungguhnya Allah menilai manusia berdasarkan tingkat keimanannya dan apa yang dilakukannya bukan karena hal yang lainnya. dan mengobrol saat maan merupakan salah satu sarana yang efektif sebagai ajang komunikasi, serta alat pemecah belenggu yang cukup efisien.
CARA 5
Mendongeng dan Latihan Olahraga
Ada sebuah penelitian yang mengatakan bahwa anak-anak Asia jarang bergerak maksudnya berlari-larian, main becek-becekan, memanjat dan yang sejenisnya karena konon dilarang oleh orang tua mereka. Orang tua khawatir anaknya jadi kotor, dan terkesan jorok. Bahkan, banyak orang tua yang merasa bangga ketika anaknya tiba-tiba dapat berjalan tanpa merangkak terlebih dahulu. Padahal pengalaman di lapangan menunjukan bahwa anak yang mengalami lompatan perkembangan biasanya akan mengalami kesulitan terutama di bidang akademis. Merangkak sebetulnya dapat membantu otak kanan dan kiri anak saling berhubungan. Ubungan antara otak kanan dan kiri harus terjadi agar kerja otak menjadi optimal, misalnya ketika anak mendengar orang tua berbicara, otak kiri akan mencoba memahami maksudnya sementara otak kanan mencoba memahami apa yang harus dilakukan.
Selain itu merangkak dapat membantu anak memiliki rasa keruangan yang baik. Ketika diawal anak mulai merangkak, anak akan sering menabrak kursi, tembok, dan sebagainya. Hal seperti ini lama kelamaan akan melatih anak untuk berhati-hati dan mengatur dirinya agar dapat menghindari rintangan yang ada di depannya. Anak menjadi lebih awas dan waspada dengan lingkungan sekitarnya. Yang dimaksud merangkak disini yaitu ketika tangan kanan kedepan dengkul kiri ikut maju dan ketika tangan kiri kedepan berarti dengkul kananpun ikut maju. Berdasarkan survey lapangan, anak merangkak minimal dua pekan dan paling ideal sampai satu atau satu setengah bulan.
Anak yang tidak merangkak biasanya tempo kerjanya lebih lambat karena dengan otak bagian kiri anak akan mengerti tetapi anak tidak dapat langsung mengerjakan sesuai dengan apa yang dipahaminya karena hubungan dengan otak kanannya kurang kuat. Anak juga biasanya mengalami kesulitan untuk memahami hal-hal yang bersifat abstrak. Biasanya juga sering terandung dan jatuh oleh kakinya sendiri dering terpeleset juga. Selain itu orang tua juga perlu tahu bahwa otak akan bekerja optimal ketika tubuh cukup air dan oksigen. Gerakan gerakan olahraga di pagi hari dapat menmbah oksigen dan jangan lupa member minum yang cukup agar otak selalu dalam keadaan hindrasi. Gerakan tubuh dapat mengurangi ketegangan apalagi disertai dengan senyum dan tawa kecil. Oksigen yang cukup akan membuat rileks dan nyaman. Dan rasa nyaman akan membuat anak berpikir dengan otak besarnya.
Dan dua catatan penting disini yaitu :
· Mendongeng dapat dijadikan pelajaran untuk anak berekspresi, memahami karakter, serta mampu memaknai sebuah cerita, dan kedepannya anak akan dapat menentukan jalan hidupnya, ingin menjadi kelak ia besar.
· Sedangkan dengan olahraga anak akan bergerak, dan dengan bergerak anak akan aktif berpikir tidak ada lagi anak yang pendiam, maka disetiap aktivitasnya otak anak akan selalu bekerja dan hidupnya akan lebih semangat.
CARA 6
Hari Spesial Untuk Anak
Banyak anak yang datang kesekolah dalam kondisi tidak bahagia. Penyebabnya dapat karena nayak orang tua yang tiak menyadari betapa pentingnya membuat pagi hari ceria agar anak-anak berbahagia saat di sekolah. Jeritan suara seorang ibu yang membengunkan anaknya yang kemudian berganti dengan kata-kata omelan yang membosankan membuat pagi menjadi suram. Suasana suram tidak hanya menbuat suasana hati menjadi tidak bersemangat tapi juga membuat suasanya hati anak-anak juga kurang ceria.
Orang tua mungkin kurang dapat merasakan batapa sulit seorang guru mengajar siswa yang suasana hatinya buram. Anak seperti ini biasanya akan menyendiri, tidak mau bersosialisasi atau sebaliknya dapat juga ia menjadi sangat tidak terkendali, maksudnya ia sulit mengikuti kegiatan pagi atau aturan yang sudah ditetapkan di kelas. Anak akan melakukan apa yang menurutnya menyenangkan tanpa memikirkan dampaknya apda orang lain. Anak yang sedang merasa tidak nyaman juga sulit berkonsentrasi karena pikirannya belum focus pada pelajaran yang sedang berlangsung.
Untuk dapat mengubah suasana hati anak, anak memerlukan suasana baru yang benar-benar berbeda. Perlu ada nuansabaru disekolah dari hari ke hari yang dapat mencuri perhatian anak. Suasana baru akan membuat penasaran bagi otak anak apalagi suasana yang membuat anak dapat tersenyum dan tertawa terkekeh-kekeh. Keceriaan dapat membuat anak santai dan percaya bahwa pagi hari tidak harus selalu suram dan buram seperti yang terjadi dirumahnya. Anak juga akan tahu bahwa keceriaan membuat belajar disekolah menyenangkan.
Emosi adalah pedang bermata dua. Seringkali emosi dapat mengganggu proses pembelajaran. Emosi negatif seperti sedih, marah, kesal dan lainnya akan melumpuhkan kemampuan anak belajar. Emosi positif seperti gembira, bahagia, senang, dan sebagainya dapat memainkan peranan penting dalam peningkatan pembelajaran. Apapun yang guru lakukan yang melibatkan emosi positif siswa akan berpengaruh kepada peningkatan motivasi dan minat mereka secara alami. Dimana peningkatan tersebut mempengaruhi system adrenalin ( salah satu zat di otak yang membuat anak waspada dan awas dengan segala hal yang terjadi selama proses belajar, membuat siswa menjadi focus) untuk menghasilkan ingatan yang lebih kuat.
Situasi rumah yang tidak menyenangkan membuat anak harus mempertahankan hidup sama halnya dengan binatang buas yang ada di hutan. Situasi pembelajaran dan sosial juga seringkali merupakan “pertempuran” untuk bertahan hidup. Ketika otak merasakan situasi yang mengancam, tanggapan stress (melawan atau lari) akan dimulai. Pada situasi seperti ini, emosi akan lebih menonjol dibandingkan pikiran. Bagian dari otak untuk berpikir atau berakal akan berkurang tingkat sfisiensinya dan proses pembelajaran seringkali terganggu.
C. MENANGANI ANAK MENANGIS
Jeritan bercampur tangisan terkadang membuat kita kikuk, kesal, bahkan marah ingin sekali rasanya memiliki kemampuan yang hanya dengan sekali sentuhan anka bisa langsung diam. Tapi apa daya jangankan menghampirinya, berkata-katapun sulit sekali karena tertutupi rengekan melengking yang memekakkan telinga sambil aksi berguling-guling di lantai atau tanah.
Menurut Steve Biddulph “ Anak yang sedang merajuk sebetulnya sedang memojokkan kita sampai pada akhirnya diberikanlah perlakuan istimewa, lalu dengan berat hati kita penuhi permintaan mereka.” Misalnya membeli boneka,atau mainanan lainnya. tapi perlakuan istimewa itu pun tidak betul-betul berkenan di hatinya. Cuma melunakkan hatinya untuk sementara saja, padahal di dalam hatinya ia tetap menyimpan rasa marah serta kecewa, untuk “dimanfaatkan” pada kesempatan lain. Dan untuk menangani anak seperti ini ada cara berikutnya :
CARA 7
Tega Meninggalkan Anak Sekolah Sendirian
Anak-anak taman kanak-kanak perlu dipersiapkan untuk menghadapi sekolahnya yang baru. Ada yang disebut masa transisi dimana anak perlu tahu siapa teman-temannya, siapa guru-gurunya. Anak usia enam tahun yang baru lulus TK biasanya masih memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri. Ada anak yang memerlukan waktu lebih lama untuk dapat mneyesuaikan diri dan salah satu penyebabnya bukan karena anak belum mampu tapi lebih karena orang tua yang tidak tega meninggalkan anaknya. Mungkin orang tua tidak pernah menyampaikan secara verbal bahwa dirinya belum tega meninggalkan anaknya. Akan tetapi anak dapat merasakannya ketika orang tuanya sebenarnya belum tega.
Kira-kira dari mana ya… anak bisa tahu? Bari bahasa tubuh, nada suara, dan ekspresi wajah orang tuanya. “ aduh bagaimana ya Nak, kalua kamu ditinggal ntar siapa ya yang akan mengurus kamu?” dengan nada suara memelas dan wajah sendu. Anak akan melihat dan merasakan pesan yang dikirim orang tuanya. Dan hal yang harus dilakukan adalah memberikan kepercayaan kepada sekolah yang telah dipilih akan memperepat anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan situasi baru. Pilihlah sekolah yang kita yakin pada kualitas sekolah maupun gurunya. Bismillah.
CARA 8 :
Mengajak Bermain
Mengalihkan perhatian saat anak sedang menangis kadang memang dapat membantu anak untuk dapat mengatasi perasaan tidak nyamannya. Banyak orang tua dan guru melakukan hal ini dengan maksud memberikan bantuan kepada anak untuk dapat segera mengatasi perasaan negatifnya. Kebiasaan mengalihkan perhatian membuat anak tidak terbiasa menyelesaikan masalahnya sendiri dan anak akan menganggap bahwa tidak perlu menyelesaikan masalah dengan tuntas. Mengalihkan perhatian boleh dilakukan untuk anak usia 2 atau 3 tahun karena pada usia ini perhatiannya mudah beralih.
Mengalihkan perhatian juga dapat dilakukan bagi anak-anak yang sudah berusia 7 atau 8 tahun yang masih belum nyaman bersekolah. Guru boleh mengalihkan perhatiaanya dengan cara menunjukkan berbagi kegiatan yang menyenangkan yang disediakan di sekolah sehingga anak dapat ide bahwa sekolah ini menyenangkan. Jika anak memahami bahwa banyak hal yang dapat dilihat, dieksplorasi, dan dinikmati bersama teman maka anak akan menyadari betapa menyenangkan bersekolah itu.
Bermodalkan cara sederhana dan serius walaupun hanya beberapa menit saja, kita sesungguhnya mampu meredam tangisan anak tanpa sedikit pun tekanan dan teriakan dari kita yang justru sebenarnya akan membuat mereka merasa takut dan akhirnya menjauh. Lewat bermain anak akan mempelajari lingkungannya, dan mendapatkan kesenangan dan penyaluran energi yang berlebihan.
CARA 9
Mendengar dengan Bijak
Persiapan mengajar merupakan hal yang perlu dilakukan. Artinya, guru harus dapat memperhitungkan hal-hal apa saja yang akan terjadi, sehingga sudah dapat diantisipasi dari awal. Memberikan cindera mata diawal tahun ajaran atau dihari pertama disinyalir dapat mempercepat anak menyesuaikan diri dengan situasi baru, akan tetapi belakangan ini ditemukan bahwa hal ini justru dapat merusak motivasi belajar siswa, seharusnya anak bahagia ketiaka dia berhasil atau sukses mengikuti aturan, mengerjakan tugas dengan tuntas atau ketika anak membantu orang lain. Bukan karena mendapat hadiah atau imbalan.
Memberikan penyambutan sebenarnya tujuannya adalah untuk memberikan perhatian secara pribadi setiap anak agar anak akan merasa spesial. Tujuan lainnya, guru dapat menyambut dengan berbagai gaya untuk membuka tutup otak anak ( karena ternyata otak ada tutupnya juga seperti tutup teko, yaitu ada dibagian otak limbik atau disebut juga otak mamalia tua). Gunanya membuaka tutup otak agar pelajaran yang sudah dipahami dapat tersimpan di otak besar.
Untuk terjadinya pelajaran yang disimpan dalam ingatan jangka panjang, ada tiga bagian otak yang punya peran besar. Pertama, informasi masuk ke batang otak, jika oleh otak limbik dianggap akan membuat tidak nyaman anak maka informasi itu ditahan dan tidak akan pernah dapat masuk ke otak besar ( dimana ingatan jangka panjang disimpan). Kedua ketika informasi masuk otak dengan cara yang menyenangkan maka otak limbik akan terbuka dan memberikan jalan informasi itu untuk disimpan dalam otak besar.
Anak-anak (khususnya kelas 1), kadang tidak mengerti mengapa dia merasa sedih ketika orang tuanya atau pengasuhnya meninggalkan dirinya. Orang tua atau guru dapat membantu anak untuk dapat menemukan inti masalah yang dihadapi anak. Dengan mencoba mendengarkan dan memahami penjelasan anak, orang tua atau guru dapat membantu anak menemukan masalahnya dan mencari alternatif solusi yang pas.
Pentingnya mendengar, anak-anak selama ini dipaksa untuk mendengarkan perkataan orang tua atau guru tapi anak itu sendiri jarang didengar. Jadi wajar saja, kadang kita menemukan anak yang sulit untuk mendengar atau mengabaikan saat diperintahkan untuk melakukan sesuatu. Agar anak mau mendengar maka anak perlu didengar. Semakin besar anak, semakin besar kebutuhan untuk didengar. Anak bukan lagi individu yang dapat diatur sesuai dengan selera orang tua atau guru. Orang ua perlu mendengar selera anak. Mudah-mudahan setelah didengar anak akan mengerti bahwa ia perlu berlatih mendengar. Anak harus tahu bahwa komunikasi bukan hanya berbicara, melainkan mendengar juga merupakan bagian dari komunikasi. Salah satu yang harus dipahami anak dan harus dicontohkan orang tua adalah bagaiman sikap seseorang jika sedang mendengar aktif :
§ Ada kontak mata,
§ Bahasa tubuh yang sesuai,
§ Memberikan isyarat mendengarkan,
§ Menunggu sampai anak selesai sebelum berbicara.
Membrikan hadiah kadang juga dapat menyelesaikan masalah anak, di saat memang belum ada jalan untuk dapat mengatasi masalah emosi negatif. Hadiah ditujukan untuk mengalihkan perhatian anak. Ketika anak sudah mau memberikan perhatian, hadiah dapat dihentikan karena akan membuat anak tidak mandiri atau punya kesan perbuatan baik selalu ada bayarannya atau imbalannya.
Tips Meredakan Tangisan Anak
1. Menjaga saat menangis, dengan menyingkirkan semua barang-barang yang bisa membuatnya terluka.
2. Memegangi tubuhnya, namun tetap membuatnya tidak merasa kesakitan saat dipegang.
3. Menjadi pendengar yang baik saat anak menangis dan regangkan pegangan saat ia sudah tidak meronta-ronta lagi.
4. Bertanya, kenapa anak menangis?
Saat ia sudah berhenti menangis.
CARA 10
Membuat Aturan
Banyak orang tua yang bertanya, bagaimana cara menyampaikan harapan orang tua atau guru kepada anak. Aturan merupakan salah satu cara untuk menyampaikan harapan. Aturan harus dibuat sesederhana mungkin dan tidak boleh terlalu banyak, agar mudah dipahami oleh anak. Karena untuk dapat menjalankan aturan, anak perlu memahami aturan. Aturan yang terbaik adalah aturan yang dibuat bersama-sama antara orang tua atau guru dengan anak. Bimbing anak untuk dapat memahami aturan dan konsisten dalam menjalankan aturan serta memberikan konsekuensi ketika aturan dilanggar. Dengan begitu anak akan mulai belajar bertanggung jawab atas segala yang dilakukannya.
CARA 11
Memberikan Pujian dan Kata-Kata Positif
Dalam menyelesaikan rasa takut pada anak memang sebaiknya dilakukan tahap demi tahap disertai dengan kata-kata dorongan positif (bukan pujian) yang memberikan semangatanak. Kata-kata yang diucapkan adalah sebuah fakta bukan hanya sekedar isapan jempol belaka atau yang mengada-ada. Banyak orang mengatakan bahwa pujian efektif diberikan untuk membuat anak mengulang lagi, tapi ternyata pujian justru membuat anak jadi memilih untuk tidak melakukan sesuatu ketika ia tahu bahwa ia tidak akan mendapat pujian karena tidak sesuai.
“Untuk para pendidik dan orang tua, seringlah memberikan energi positif berupa perkataan atau tindakan yang membuat anak jadi percaya diri dan tidak memilih menangis, seperti bagus, baik, rajin dll. Anak-anak percaya apa yang anda katakana kepada mereka. Anak-anak bertindak sesuai dengan harapan anda. Kalau anda memusatkan perhatian pada sifat-sifat positif, anda akan membina sifat-sifat positif yang lebih kuat. Gunakan pujian dan dorongan yang mengajarkan anak-anak untuk menghargai dirinya sendiri” Sal Severe, Ph.D
CARA 12
Memahami Minat Anak untuk Dapat Masuk Kedunianya
Ada beberapa anak yang terlahir mengalami kesulitan untuk dapat mengungkapkan dirinya. Penyebabnya dapat karena pola asuh orang tua yang terbiasa menebak kemauan anak dan tidak membiasakan anak untuk menyampaikan kemauannya. Dapat juga, orang tua jarang mendengarkan kemauan anak atau malahan menolak perasaan anak. Sikap seperti ini dapat membuat anak menjadi tidak yakin dengan kemauan dirinya. Anak jadi tidak terbiasa menyampaikan kebutuhannya karena semua kebutuhannya sudah dipenuhi tanpa berbicara. Dan ketika anak ini bertemu dengan orang baru atau anak mulai sekolah, orang tua baru menyadari.
Guru biasanya juga mengalami kesulitanuntuk dapat berkomunikasi dan memahami perilaku anak. Salah satu cara juga yang dapat dipakai untuk memahami kondisi emosi anak yang seperti ini yaitu dengan melakukan kunjungan rumah dan mencoba mengamati apa kesenangan anak. Memahami kesenangan anak seperti mencari kunci untuk membuka pintu komunikasi dengan anak sehingga anak tertarik pada guru dan mau membuka dirinya. Ketika anak sudah membuka dirinya selanjutnya insya Allah akan lebih mudah mengarahkan anak.
D. MENANGANI ANAK MARAH
Tingkah mengamuk dipelajari secara kebetulan. Awalnya anak-anak belum mengerti apa yang harus ia lakukan ketika keinginannya tidak dikabulkan. Maka cara yang efektif untuk mencari perhatian adalah merajuk. Lambat laun setelah mereka sudah mampu mencermati lingkungan, sering menonton televisi , akhirnya cara-cara menyelesaikan marah yang kurang produktif langsung diadopsi oleh mereka. Selain itu banyak juga anak yang karena kecewa tidak dikabulkan keinginannya. Anak bisa saja menghentakkan kakinya ke lantai sambil melemparkan benda yang ada di depannya ke segala arah. Bahkan akan terjadi aksi mainpukul ke tubuh ayah atau ibu. Ada yang lebih ekstrem lagi bila ia kesal, jengkel kepada teman main, secara spontan tangan dan kaki anak itu melayang tak terkendali ke tubuh temannya.
Sebetulnya tingkah demikian itu, merupakan sekedar pelampiasan dan segala yang membentuk frustasi. Tapi untuk sebagian besar, anak berperilaku demikian karena pengaruh yang ditimbulkan terhadap orang dewasa! Melihat anak kecil bertingkah seperti itu, orang dewasa akan merasa malu, takut, bingung, lalu biasanya mereka akan meluluskan permintaan anak! Maka, mengamuk bisa menjadi karakter yang akan menetap dan mengakar. Untuk itu hal yang dapat dilakukan yaitu :
CARA 13
Meminta Maaf dengan Berbagai Cara
Memahami tahap perkembangan anak diantaranya juga dapat membantu kita untuk dapat menakar seberapa jauh kita memberikan kejutan. Temperamen anak juga berbeda-beda. Ada yang sangat peka, ada yang bebal, ada juga yang peka untuk hal tertentu, tapi tidak peka untuk hal yang lain. Anak dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, misalnya dari gaya belajarnya; ada anak yang belajar dengan matanya, dengan telinganya, atau dengan bergerak, artinya harus memegang, mencium, merasakan benda konkret.
Dapat juga kita elihat dari temperamennnya, yaitu terlalu peka, cuek, atau biasa saja. Dapat juga dari kecenderungan kecerdasan majemuk, yaitu cerdas kata, cerdas angka, cerdas nada, cerdas diri, cerdas sosial, cerdas gambar, cerdas alam, cerdas gerak, dan cerdas spiritual ada juga yang melihat dari kemampuan berpikir, yaitu ada anak yang berpikir konkret, konkret acak, abstrak, abstrak acak. Semuanya memberikan cirri khas bagi anak-anak.
CARA 14
Memindahkan Posisi Anak ke Tempat Lain
Anak perlu dilatih untuk dapat mengendlikan emosinya, dibawah ini ada dua cara yang dapat dilakukan oleh orang tua atau guru.
1. Orang tua atau guru tidak boleh memarahi ketika egoisme anak masih menonjol tapi usahakan agar anak belajar untuk berempati, misalnya keika seorang anak ngotot memilki sesuatu kita dapat membiarkan anak merasakan dampak sifat egoism dari temannya atau ketika anak memukul anak lain katakana, “ abang mau dipukulkah “
Biasanya anak secara otomatis mengatakan tidak mau. Lalu tanyakan pertanyaan lanjutan, “ memangnya kenapa kok abang nggak mau dipukul? “ anak akan menjawab , “ sakit. “
Lanjutan percakapannya, “ kira-kira teman yang kamu pukul merasakan sakitkah? Biasanya anak akan terdiam untuk berpikir. Berikan lagi pertanyaan ini. “ jadi untu selanjutnya kalau kamu ada masalah, apa yang harus dilakukan? “
Anak yang belum tahu dapat diberikan pilihan jawaban, contoh memukul atau berbicara ?
2. Ketika langkah pertama sudah dilakukan berulang-ulang dan anak masih menggunakan marah sebagai solusi masalahnya maka anak dapat diasingkan dan diminta untuk berpikir. Kemudian lakukan perenungan setelah waktu berpikir usai. Waktu berpikir biasanya disesuaikan dengan usia anak, misalnya anak usia 3 tahun cukup 3 menit saja.
Saat anak diasingkan tidak boleh satu orangpun yang mengajaknya bercakap-cakap. Biarkan anak sendiri dan berpikir. Anda tidak perlu memasukkan anak ke kamar mandi. Karean akamar mandi adalah tempat yang tidak pernah disebut nama Allah, jadi hati-hatilah jika mengurung anak dalam kamar mandi. Kegiata diasingkan perlu beberapa kali sampai anak mengerti bahwa menyelesaikan masalah dengan bicara tidak dengan marah dan menggunakan fisik seperti menendang atau memukul.
Jadi anda tidak perlu marah-marah ketika menghadapi anak yang marah. Anak yang marah sesungguhnya sedang menggunakan otak reptil (yang hanya dapat berpikir dua hal saja yaitu lari atau kabur atau melawan) dan orang tua yang mara-marah pada anaknya juga sedang menggunakan otak reptile. Masalah tidak akan selesai kecuali salah satu yang lebih dewasa menggunakan otak besar (otak yang digunakan untuk berpikir kreatif, kritis, lateral atau menggunakan lebih dari satu sudut pandang).
CARA 15
Meng-crossing Anak dengan Tenang
Crossing merupakan salah satu cara untuk membantu anak mengendalikan dirinya atau kemarahannya. Intinya tidak menyakiti anak, tapi membuat anak tahu perbuatannya tidak baik dan setiap perbuatan itu selalu ada konsekuensinya. Cara meng-“crossing” adalah dengan mendudukkan anak dilantai dengan posisi penggung anak ada di dada orang dewasa. Jangan berdiri dan wajag anak menghadap perut, jika anda sedang tidak beruntung anda akan terkena gigit. Jika anda mau meng-“crossing” berdiri maka posisikan punggung anak ada dibagian perut dan dada. Jangan letakkan tangan dekat mulut anak. Tangan anda juga akan mudah digigit anak.
crossing tidak dilakukan terus-menerus. Ini merupakan bagian terakhir, ketika segala alternative sudah dicoba. Jika di sekolah dan ada orang tua anak tersebut, sebaiknya guru minta izin karena bagi orang yang belum mengerti “crossing” dilihat sebagai tindakkan menyiksa anak. Anak akan terus dipegang tangannya (tapi tidak menyakiti anak) sampai ia mau memperbaiki kesalahannya atau mau melakukan apa yang harus dilakukan.
Ide “crossing” datang dari seorang trapis anak-anak yang mengalami autisme. Tujuannya untuk membuat anak mau bekerja sama dan bahwa setiap perbuatan ada konsekuensinya. Crossing selesai ketika anak mau melakukan yang diminta dan menjalankan konsekuensi satu perilaku. Anak-anak yang biasanya perlu di “crossing” adalah anak-anak yang kurang dilatih orang tuanya untuk menaatia aturan atau ada aturan tapi tidak dijalankan secara konsisten ketika anak melanggar aturan. Dapat juga, atau anak yang susah dapatnya sehingga cenderung apa kemauannya diikuti oleh orang tuanya. Atau anak yang orang tuanya memosisikan dirinya sebagai teman atau sahabat kepada anaknya sehingga tidak pernah ada konsekuensinya ketika anak melakukan hal yang negative, banyak dimaklumi. Pola asuh yang tidak sama antara bunda dan ayah juga menghasilkan anak yang mengalami kesulitan untuk bekerja sama. Ketika anak ditegur oleh bundanya maka ia akan berlari ke ayahnya meminta perlindungan.
CARA 16
Mengajak Berdiskusi
Anak yang marah adalah anak yang sedang kehilangan orientasi berpikirnya. Artinya otak emosional sedang menguasai otak rasional. Dengan memberikan pilihan yang logis yang mudah dipahami anak atau yang sesuai usianya. Biasanya otak emosional akan kehilangan kekuatannya dan otak rasional yang bekerja alias otak besar yang berfungsi. Memberikan pilihan juga memberikan kemampuan anak untuk menentukan sikap dalam menyelesaikan masalahnya dan juga melatih anak untuk berpikir yang terbaik bagi dirinya. Pilihan membuat anak merasa berkuasa atas dirinya sendiri, sehingga yang terbangun adalah pemahaman dan rasa mampu atau rasa bisa menyelesaikan masalah. Ini adalah kendali internal yang harus dibangun, bukan kendali eksternal dalam bentuk instruksi-instruksi atau ceramah.
CARA 17
Menggunakan Variasi Cara Agar Anak Tidak Jenuh
Variasi membuat kita tidak jenuh. Otak jadi mau diajak bekerja sama. Kejenuhan akan membuat otak tidak mau kerjasama, artinya kita jadi sulit berpikir karena otak telah tertutup. Ketika anak gelisah, sibuk dengan dirinya atau izin ke toilet ketika orang tua sedang mengajar pelajaran sekolah, maka orang tua perlu berhenti sejenak. Lakukan evaluasi, apa yang membuat anak jenuh. Tak ada gunanya memaksa otak yang sedang jenuh untuk berpikir karena saat ini anak sedang menggunakan otak reptile.
Perlu diketahui bahwa otak manusia seperti ceret. Untuk dapat terjadinya pembelajaran yang optimal, tutup otak harus dibuka dulu. Otak akan menutup kembali saat terjadi rasa jenuh atau anak akan menggunakan otak reptile untuk berpikir. Guru atau orang tua perlu banyak ide untukmengatasi rasa jenuh yaitu dengan memberikan tantangan dengan derajat kesulitan yang sesuai. Jika terlalu mudah, anak akan menganggap remeh. Jika terlalu sulit anak akan merasa frustasi. Keduanya akan membuat otak jenuh.
E. MENGAJARKAN ANAK MENJADI PEMAAF
Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan kepada orang lain, baik orang tua, suami, istri, atau tetangga, dan anak kita. Ada orang tua yang mengecewakan anaknya karena sudah janji ingin menbawa jalan-jalan ke supermarket. Tetapi karena alasan sibuk urusan kantor jadi lupa menepati janjinya. Dan dengan enteng hanya permohonan maaf saja tanpa ada kelanjutannya. Akan tetapi tidak semua anak dapat memaafkan semua kesalahan orang tuanya itu dengan lega.
Pernah satu ketiak ada seorang anak yang tidak ingin melihat dan bertemu lagi dengan ayahnya, gara-gara tanpa sengaja melihat ayahnya menampar ibunya. Sampai seperti itukah? Sebenarnya mampukah rasa pemaaf itu di bentuk? Untk lebih jelas mari kita bahas dengan cara-cara berikutnya.
Cara ke 18
Membaca Doa dengan Suara Keras di Depan Anak
Anak adalah makhluk Allah yang mudah untuk disugesti. Anak mudah diajak pada kebaikan, terutama anak-anak yang masih terjaga fitrah. Banyak orang tua dan guru yang memilih melakukan tindakan marah atau kekerasan untuk menyadarkan anak. Sikap marah atau negatif saat menyelesaikan masalah akan memberikan contoh atau keteladanan yang kurang baik kepada anak. Anak akan berpikir bahwa ia boleh menyelesaikan masalah dengan marah karena orang tua atau gurunya mencontohkan.
Jika kita menghadapi anak yang menyelesaikan masalah dengan marah maka kita tidak boleh bersikap yang sama. Justru kita perlu menunjukkan sikap sabar ketika menghadapi anak marah bukan malah ikut-ikutan marah. Menyelesaikan masalah dengan bicara adalah salah satu cirri kematangan psikologi anak. Diusianya yang masih dini, anak biasanya mulai menyelesaikan masalah dengan menangis, kemudian dengan marah sambil menjerit-jerit atau melempar barang. Lebih besar lagi, anak mulai menyelesaikan dengan fisik seperti mencakar, menggigit, memukul, atau merebut langsung mainan yang diinginkan.
Sikap tenang dari orang tua, akan membuat anak melihat pola penyelesaian yang berbeda. Latih anak untuk mengendalikan emosinya bukan membantu dengan mengatakan “ cup cup deh…udah deh diam dulu nang isnya ..” katakana pada anak, “ apakah menangis dapat menyelesaikan masalah?” atau “ kira-kira mama mengertikah dengan masalahnya jika kamu menangis seperti ini?” biasanya, berdasarkan pengalaman lapangan, kalimat-kalimat ini cukup mampu membuat anak mengendalikan emosi negatifnya. Otak emosi yang tadinya dominan menguasai pemikiran, anak akan bergeser ke otak rasional. Perlahan, anak akan mampu menguasai emosinya. Orang tua dapat berbicara dengan anak saat anak sudah tenang. Lakukan pola diatas berkali-kali atau sesering mungkin sampai anak dapat menangkap pola bahwa berbicara adalah cara yang dapat dilakukan untuk dapat menyelesaikan masalah anak.
CARA 19
Bercerita Kisah Teladan
Menurut Thomas Lickona, pakar pembentukkan karakter anak dari Amerika, ada sepuluh tanda karakter generasi muda yang patut dicemaskan karena akn membuat satu Negara hancur.
1. Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja.
2. Ketidakjujuran yang membudaya (kebohongan, penipuan, dan pencurian).
3. Semakin tingginya rasa tidak hormat kepada orang tua, guru, dan figure-figur kepemimpinan.
4. Pengaruh teman sebaya terhadap tindak kekerasan kekerasan yang meninggi.
5. Meningkatnya kecurigaan dan kebencian.
6. Penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk.
7. Penurunan etos kerja.
8. Menurunnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara.
9. Meningginya perilaku merusak diri seperti seks bebas, alcohol, narkoba, dan bunuh diri.
10. Semakin kaburnya pedoman moral termasuk tidak dapat mengendalikan perilaku buruk atau tidak adanya kesadaran bahwa perbuatan jeleknya salah.
Bercerita pada anak merupakan salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk menangkal semua itu. Suasana saat bercerita memberikan kehangatan dan kedekatan hati dengan anak selain juga memotivasi anak untuk bercerita. Frekuensi kedekatan dan interaksi orang tua atau guru terhadap anak akan berpengaruh juga pada perilaku anak.
Semakin sering anak berinteraksi dengan orang dewasa, anak akan belajar mengambil pengalaman, idealisme dan yang paling penting seperti disebutkan dalam sebuah hadist, “keimanan seseorang sangat ditentukan oleh keimanan orang yang dicintainya” buatlah suasana kebersamaan yang nyaman sehingga anak-anak akan senang dan cinta dengan kita. Jika anak sudah cinta, maka tidak ada hal yang sulit. Kita akan mudah mensugesti anak pada kebaikan termasuk perilaku, cara berbicara, cara menegur yang sopan ketika ada yang berbuat tidak baik. Anak juga akan memilih orang tua atau gurunya sebagai tokoh idolanya sebagai salah satu jembatan menuju pemahaman bahwa hanya Allah swt. sajalah Penguasa dalam hidupnya dan hanya Rasulullah Muhammad saw. Saja sebagai teladan hidupnya.
Pujian sekali lagi jangan lupa selalu disertakan dengan hal yang dilakukan anak. Mialnya “ Terima kasih Nak. Pekerjaan Ibu jadi lebih cepat selesai karena bantuanmu .“
CARA 20
Memberikan Contoh Teladan di Setiap Kegiatan
Memaafkan ternyata menyehatkan. Ketika kita memaafkan orang lain, perbuatan orang lain yang membuat kita kesal menjadi menguap dari pikiran kita dan kita menjadi tenang. Ada hasil penelitian yang mungkin dapat dijadikan pegangan masalah maaf memaafkan. Ada 10 orang wanita yang mengalami korban perkosaan oleh anggota keluarga yang masih ada hubungan darah, misalnya dengan ayah, kakek, kakak laki-lakinya, paman, sepupu, dan lain-lain. Kesepuluh wanita tersebut diwawancarai apakah akan memaafkan palaku atau tidak. Semua wanita udah dites tingkat stresnya dan semua dalam kondisi stres tinggi. Jawaban terbagi menjadi dua, yaitu lima korban akan memaafkan dan lima korban lainnya menolak.
Setelah dua tahun, wanita yang memaafkan sudah tidak stres lagi dan mulai dapat menikmati hidup. Sedangkan yang tidak mau memaafkan, hasil uji stresnya masih sangat tinggi, bahkan lebih tinggi dari saat kejadian. Kenapa demikian? Karena orang yang tidak memaafkan selalu memikirkan kejadian yang terjadi padanya dan menimbulkan rasa dendam. Wajar saja mereka tidak dapat santai karena tidak ada pikiran yang lain kecuali membalas dendam. Teladan lebih baik dari 1000 kata; begitu kata pepatah. Anak-anak lebih percaya dengan apa yang dilihat dari pada apa yang dikatakan. Anak membutuhkan waktu untuk dapat memahami kesalahannya. Intinya untuk memperbaiki kesalahan hindari ceramah atau nasihat yang panjang lebar. Otak biasanya tidak mau kerjasama. Ajak anak untuk melakukan perenungan dari kesalahan yang telah dilakukan.
CARA 21
Menyapa dan Mengucap Salam
Bersalaman, menatap dan sering memeluk anakatau bahkan menciumnya akan memberikan kehangatankepada anak. Pengalaman lapanagn menunjukkan bahawa anak yang memiliki masalah emosi, artinya ia belum nyaman dengan dirinya. Umumnya menolak untuk dipeluk atau kalaupun kita berhasil memeluknya anak akan menjauhkan tubuhnya dari kita. Penyebabnya adalah karena anak belum sepenuhnya percaya dengan orang tua atau guru.
Peluk memeluk dilakukan saat anak masih di usia SD sampai kelas 4. Bapak dan Ibu guru boleh melakukannya. Lewat dari itu, cukup berbicara dengan berhadapan atau menyamping. Kaalaupun boleh memeluk hanya dengan guru yang berjenis kelamin sama, mengapa demikian? Karena anak kelas lima sudah mullah masuk usia prabaligh dan ada juga yang sudah baligh. Dan guru perlu memberikan teladan untuk hal-hal seperti ini.
Tips Memunculkan Rasa Kasih Sayang kepada Anak
1. Jadikan anak-anak teman bagi guru-gurunya sehingga suasana sekolah tercipta hubungan yang sama-sama saling berbagi dan penuh kasih saying.
2. Jadikan pendengar yang baik saat anak-anak yang berbicara dan pikiran benar-benar terpusat kepada anak yang sedang berbicara dan pikiran benar-benar terpusat pada anak yang sedang berbicara pada gurunya.
3. Kedepankan kata-kata positif dan memperbanyaknya disetiap hari sampai hal terkecil pun sehingga lebih banyak terekam ke telingan anak-anak.
4. Menyapa dan berjabat tangan yang hangat, bahkan sampai memeluknya.
5. Memberikan pertolongan lebih cepat khususnya saat mereka sakit sehingga mereka lebih percaya kepada kita.
F. MENJADIKAN ANAK MANDIRI
Pada zaman serba instan inim dibutuhkan kesungguhan ekstra untuk mengajarkan kemandirian pada anak. Anak bisa mandiri mengurus dirinya sendiri, memang butuh beberapa tahap yang harus dilewati, minimal ada aksi langsung kepada anak agar bisa belajar mandiri. Berikut adalah cara bagaiman mencetak anak mandiri.
CARA 22
Memberikan Reward Setelah Anak Melakukan Tugas
Untuk membentuk perilaku baru pada anak atau membangun kebiasaan baru, kita boleh menggunakan hadiah, tetapi tetap harus diberikan setelah anak mengerjakan tugas. Tujuan pemberian hadiah adalah untuk mencari perhatian anak saja. Setelah hadiah diberikan, jangan lupa melakukan perenungan dengan anak supaya anak menyadari enaknya mengerjakan PR di awal waktu. Pada akhirnya hadiah tidak boleh diberikan lagi apalagi keika anak sudah mulai menikmati mengerjakan PR lebih awal. Anak akan kehilangan semangat dan keikhlasannya ketika tidak ada lagi hadiah yang diberikan.
Tips Agar Anak Mau Menurut Perintah Orang Tua
1. Sebelum bicara mengenai aturan, terlebih dahulu lakuakan pendekatan personal.
2. Dalam menegur, jangan menggunakan kalimat destruktif.
3. Alihkan perhatian ank pada hal yang lebih menarik dan menantang.
4. Jangan pernah memberikan reward sebelum mengerjakan sesuatu kegiatan, misalnya mengerjakan PR.
5. Buatlah perjanjian agar anak terikat dengan orang tua.
CARA 23
Membuat Jadwal Kegiatan
Hampir semua buku mendidik anak dalam Islam menyebutkan pentingnya mendidik anak dengan kelembutan dan juga ketegasan. Kemarahan orang tua biasanya tidak menyelesaikan masalah. Anak merasa tidak nyaman dan menjadi lebih sulit untuk diajak kerjasama. Anak dalam keadaan marah tidak akan dapat diajak untuk merenung. Menyelesaikan masalah perilaku anak dengan bertahap akan lebih mudah dicerna oleh otak anak seperti membuat kontrakbangun pagi akan lebih mudah dipahami ank dibandingkan dengan kemarahan yang maksudnya untuk mengubah tingkah lakunya malah membuat anak jadi dendam dan tidak mengerti makna kemrahan orang tua.
Orang tua boleh tegas, tapi bukan marah atau galak. Bedanya memang tipis sekali. Ketegasan akan berubah menjadi kemarahan ketika suara anda tinggi dank eras. Kemarahan juga memerlukan intensitas. Tadinya kemarahan yang biasa saja sudah membuat anak jera, tapi di kesempatan berikutnyakemarahan biasanya tidak lagi mempan. Jadi, anak perlu marah yang lebih lagi intensitasnya. Orang tua akan semakin tua sementara anak akan semakin besar. Karena itu, biasakan semua masalah perilaku anak diatasi dengan berbicara.
CARA 24
Bekerja Bersama Anak
Salah satu target pendidikan yang kita lakukan pada anak bagaimana segala hal yang kita ajarkan semasa kecilnya akan disimpan didalam ingatan jangka panjangnya. Sehingga akn mudah dikeluarkan dari ingatan ketika diperlukan atau ketika ada masalah dalam kehidupannya. Penelitian konkret akan lebih mudah diingat dan disimpan baik pada ingatan jangka panjang. Betapa pentingnya pegalaman langsung, konkret, melibatkan semua indera bagi kehidupan seorang anak. Anak-anak akan lebih mudah mengambil pelajaran dari pengalaman langsung.
Sebenarnya, bukan cuma anak-anak saja tapi juga orang dewasa. Hati anak yang masih bening dan fitrah yang masih terjaga memudahkan anak untuk mengambil hikmah dari yang dialaminya. Anak-anak yang nyaman psikologisnya biasanya akan lebih jujur dalam melihat masalah yang ada didalam dirinya.
Kegiatan sehari-hari merupakan kesempatan emas untuk memberikan pelajaran kepada anak sambil mengarahkan akhlaknya. Ajak anak untuk menyadari bahwa tingkah laku baik yang mereka lakukan buakn hanya untuk oarng lain, melainkan sesungguhnya, perbuatan baik kembali kepada anak-anak . sadarkan anak bahwa perbuatan baik adalah untuk kebaikan mereka sendiri.
CARA 25
Service Learning Program
Tujuan akhir dalam hidup kita adalah menjadi hamba Allah yang rela menjadikan AL-Qur’an mengatur kehidupannya. Siap menjalani gaya hidup islami sesuai dengan keyakinannya. Anak-anak perlu dilatih untuk menjadi hamba Allah yang tanpa tapi dalam menerima semua keputusan Allah. Fitrahnya manusia adalah bermalas-malasan, maunya enek-enakkan saja, mengeluarkan tenaga sekecil mungkin tapi mendapatkan keuntungan besar. Padahal jelas bahwa orang yang memberikan lebih akan mendapatkan lebih banyak juga.
Anak –anak masih berpikir linear. Cara berpikirnya masih hitam dan putih, masih kurang fleksibel. Mereka masih menghitung-hitung saat menolong orang lain. Padahal jelas bahwa orang yang palin untung adalah orang yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain. Jadi, pengertiannya bukan kalau anak mengeluarkan usaha dua maka ia hanya dapat dua. Program berlatih melayani merupakan salah satu pendekatan terbaru yang dapat melatih anak untuk secara langsung mengabdikan dirinya pada masyarakat atau melakukan apa yang mereka mampu lakuakn untuk membantu orang lain, sekaligus juga menggali potensi apa yang mereka miliki dengan kegiatan konkret.
Pelaksanaanya tidak boleh langsung atau mendadak, tapi harus dipersiapkan langkah demi langkah. Tujuan bukan agar anak dapat mencari uang tapi lebih untuk merasakan beratnya untuk mempertahankan kehidupan pribadi. Tujuan lainnya adalah lebih untuk memberikan variasi pengalaman dalam kehidupan anak bahwa didalam setiap orang ada kemampuan yang dapat diguankan untuk menolong orang lain, meringankan beban orang lain yang kurang beruntung. Akan tetapi persiapan harus dilakukan dengan baik dan ketiak terjadi hal yang tidak diinginkan di lapangan maka orang tua atu guru harus segera membantu memberikan alternatif penyelesaiannya. Anak-anak tidak boleh menjadi trauma dengan kegiatan berlatih melayani. Anak-anak yang terbiasa melayani orang lain, ia akan mau melayani Allah swt. Karena sebenarnya inti kehidupan ini adalah memberikan pelayanan bukan dilayani.
CARA 26
Membiasakan Anak Beraktivitas Mandiri
Sebenarnya banyak cara yang bisa dilakuakn anak agar bisa lebih mandiri dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
1. Pada saat makan diusahakan anak untuk mengambil dan makan sendiri. Tidak masalh jika sisa makanan berceceran di lantai, kalau hal itu terjadi kita persilahkan mereka untuk bertanggung jawab membersihkannya. Namun kita selaku orang tua atau pembimbing biasanya dengan mencontohkan 2x sampai 3x, dan ank diminta untuk melanjutkan. Sehingga lama-kelamaan tidak perlu bantuan lagi dan hasilnya akan menjadi mandiri.
2. Pakailah sepatu tanpa dibantu, biarkan ia mengeksplor kira-kira yang manakah sepatu kiri dan sepatu kanan?
3. Ketika terjatuh dan menangis jangan langsung digendong, tapi biarkan ia selesaikan tangisannya sampai ia siap untuk bercerita kenapa ia bisa terjatuh.
4. Jika bertengkar, pertemukan kedua anak, lalu dengarkan mereka bercerita sesuai versi masing-masing.
5. Minta anak untuk membereskan kembali mainan atau perlengkapan yang telah dipakai.
6. Jika ada kegiatan yang melibatkan anak secara langsung, seperti menggunting, mengelem, mengecet dan sebagainya, biarkan anak mencoba sendiri.
Kita perlu melatih kemandirian anak untuk karena kemandirian adalah dasar dari tumbuhnya kesadaran diri yang akn membuat anak memiliki kesadaran akan lingkungan. Anak-anak yang kurang mandiri akan tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Anak yang kurang mandiri juga tidak akan berani untuk mengajukan ide-idenya atau inisiatif. Anak yang tidak memilki inisiatif tidak akan menjadi anak yang produktif. Produktif disini maksudnya mau dan mampu bekerja baik untuk memenuhi kebutuhannya sendiri atau untuk membantu orang lain. Melatih kemandirian harus dimulai sekecil mungkin. Mungkin rasanya tidak tega tetapi kalau tidak, anak kita akan tergantung pada orang lain, merepotkan orang lain. Dia tidak akan dapat bertahan hidup.
Cara melatihnya secara bertahap. Muali dari kegiatan yang sangat dekat dengan anak dan yang ada kaitannya dengan kebutuhan sehari-hari anak.
Anak usia 3 tahun sangat suka membentu orang tuanya mulai dari membereskan tempat tidurnya dengan cara menarik sprei, menumpuk bantal.
Usia 4 tahun sudah dapat melipat selimut dengan bantuan, membereskan sprei dan bantal.
Usia 5 tahun sudah dapat ditambah untuk dilatih mengelap kaca kamar, menumpuk buku, menyusun baju di lemari.
Usia 6 tahun boleh ditambah dengan kegiatan rumah tangga, misalnya buang sampah, menyusun piring makan, sendok dan garpu, membeli keperluan sehari-hari di warung.
Usia 7 tahun, boleh mulai dilatih untuk mencuci pakaian dalamnya. Anak sudah mulai dapat diberi tanggung jawab mengelola uang jajan untuk tiga hari. Jadi uang jajan per tiga hari.
CARA 27
Berikan Simulasi Bagaimana Cara Mencari Uang
Selain beberapa cara yang diatas cara yang terakgir ini juga sangat diperlukan bagaimana cara mandiri menghasilkan uang, namun tetap ramah dan tidak mengeksploitasi fisik dan mental mereka. Tujuannya adalah untuk member pengalaman bahwa jika kita mempunyai kebutuhan, kita dapat memenuhinya dengan cara bekerja untuk menghasilkan uang.
Perlakuan kita dalam membimbing tingkah laku anak harus dikelola dengan baik. Apabila anak telah tersentuh hatinya. Terbentuk motivasi internal, maka akan tercipta kepuasan batin. Apapun yang sudah kita berikan kepada mereka merupakan upaya investasi jangka panjang kita terhadap kehidupan mereka di kemudian hari. Jika mereka menjadi bintang maka akan berimbas langsung terhadap diri kita yang paling minim adalah perasaan bahagia melihat kesuksesan mereka. Oleh karena itu, nikmatilah ketika kita sudah menjadi pejuang anak.
Judul Buku : 27 Cara Menangani Emosi Anak
Pengarang : Kak Dodo & Kak Imam
Penerbit

Tidak ada komentar:
Posting Komentar