PENDIDIKAN bagi anak penyandang autis tidak sama dengan anak biasa. Kurikulum pendidikan yang disiapkan umumnya sangat individual.
Data yang dimiliki Departemen Pendidikan Nasional menyebutkan, penyandang autis yang mengikuti pendidikan layanan khusus ternyata masuk lima besar dari seluruh peserta sekolah khusus.
Jumlah terbesar adalah penyandang tuna grahita (keterbatasan intelektual) berat dan ringan sebanyak 38.545 peserta, tuna rungu 19.199 peserta. Diikuti kemudian penyandang tuna netra 3.218 peserta, tuna daksa 1.920 peserta dan autis sebanyak 1.752 peserta.
Di Indonesia, sekolah yang khusus menangani autis berjumlah 1.752 sekolah. Lima besar provinsi yang paling banyak mendirikan sekolah autis adalah Jawa Barat sebanyak 402 sekolah, Jawa Timur 263 sekolah, Daerah Istimewa Yogyakarta 131 sekolah. Kemudian diikuti Sumatera Barat dan DKI Jakarta yang masing-masing memiliki 111 sekolah untuk penyandang autis.
Direktur Pembinaan Sekolah Luar Biasa Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen) Departemen Pendidikan Nasional Eko Djatmiko Sukarso menyatakan, UU Sisdiknas No20 Tahun 2003 mengamanatkan kepada pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan bagi semua masyarakat. "Pemerintah mengakui dan melaksanakan pendidikan khusus (PK) dan pendidikan layanan khusus (PLK) bagipenyandangautis," sebutnya.
Semua hal yang terkait dengan pembelajaran untuk anak-anak autis berpedoman pada Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Namun begitu, Eko mengatakan, Diknas memberikan kebebasan kepada masing-masing sekolah untuk menentukan kurikulum bagi penyandang autis. Ini disebabkan setiap sekolah memiliki kebutuhan yang berbeda dalam mendidik penyandang autis.
Awal Psikolog dari sekolah khusus autis "Mandiga" di Jakarta, Dyah Puspita menyatakan, kurikulum autis harus dibuat berbeda-beda untuk setiap individu. Mengingat setiap anak autis memiliki kebutuhan berbeda. Ini sesuai dengan sifat autis yang berspektrum. Misalnya ada anak yang butuh belajar komunikasi dengan intensif, ada yang perlu belajar bagaimana mengurus dirinya sendiri dan ada juga yang hanya perlu fokus pada masalah akademis.
Penentuan kurikulum yang tepat bagi tiap-tiap anak, Dini Yusuf, pendiri homeschool untuk anak autis "Kubis" di Jakarta mengatakan, bergantung dari assessment (penilaian) awal yang dilakukan tiap sekolah. Penilaian ini perlu dilakukan sebelum sekolah menerima anak autis baru. Biasanya, penilaian melalui wawancara terhadap kedua orangtuanya. Wawancara ini untuk mengetahui latar belakang, hambatan, dan kondisi lingkungan sosial anak.
Selain itu, penilain awal ini juga melalui observasi langsung terhadap anak. Lamanya penilaian awal ini, menurut Dini,berbeda-beda."Tetapi, dari sana, kami lalu menentukan jenis terapi dan juga kurikulum yang tepat buat sang anak," ujarnya. Biasanya, terapi ini akan digabungkan dengan bermain agar lebih menyenangkan bagi anak autis.
Kepala Sekolah khusus autis, AGCA Centre Bekasi Ira Christiana, mengatakan, sekolahnya memiliki berbagai macam bentuk terapi bagi penyandang autis. Di antaranya, terapi terpadu, wicara, integritas, dan fisioterapi. "Terapi apa yang diberikan tergantung dari kondisi anaknya," sebutnya.
Perlakuan terhadap penyandang autis di atas umur lima tahun berbeda dengan penyandang autis di bawah umur lima tahun. Terapi penyandang autis di atas umur lima tahun lebih kepada pengembangan bina diri agar bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. "Ini wajib hukumnya karena mereka sudah waktunya untuk sekolah," ujar Ira.
Jika penyandang autis yang berumur di atas lima tahun belum bisa bersosialisasi sama sekali, maka akan diberikan pelatihan tambahan yang mengarah kepada peningkatan syaraf motorik kasar dan halus. Bagi penyandang yang sudah bisa bersosialisasi, maka akan langsung ditempatkan di sekolah reguler, dengan catatan mereka harus tetap mengikuti pelajaran tambahan di sekolah khusus penyandang autis.
Penyandang autis di bawah lima tahun diberikan terapi terpadu seperti terapi perilaku dan wicara. Terapi perilaku bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan, meniru, dan okupasi. Terapi wicara dimulai dengan melakukan hal-hal yang sederhana, seperti meniup lilin, tisu, melafalkan huruf A,dan melafalkan konsonan.
Hal lain yang patut dicermati, menurut Ira, adalah konsistensi antara apa yang dilakukan di sekolah dengan di rumah. Jika terdapat perbedaan yang mencolok,kemajuan anak autis akan sulit dicapai. Anak mengalami kebingungan atas apa yang ada pada lingkungannya. Untuk itu, diperlukan komunikasi intensif antara sekolah dan orangtua.(sindo//nsa)
sumber:http://lifestyle.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/05/17/27/110062/kurikulum-khusus-penyandang-autis
Penyandang Cacat Juga Punya Kelebihan
Anak-anak yang memiliki kekurangan bukan berarti mereka tak mempunyai kelebihan. Untuk itu bakat dan minat anak-anak berkebutuhan khusus tersebut harus digali dan ditingkatkan melalui festival khusus bagi mereka."Festival ini untuk menggali prestasi penyandang cacat serta menyeleksi siswa pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus DIY untu mengikuti festival tingkat nasional," kata Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah Raga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Suwarsih Madya saat membuka Festival Lomba dan Seni Siswa, Olimpiade Olah Raga Siswa, Gebyar Pendidikan Khusus (PK) dan Pendidikan Layanan Khusus (PLK) propinsi DIY, di Balaikota Yogyakarta, Selasa (14/04).
Festival ini nantinya akan menjaring siswa Pendidikan Khusus (PK) dan Pendidikan Layanan Khusus (PLK) propinsi DIY untuk ikut dalam Festival Lomba dan Seni Siswa Nasional (FLS2N) yang akan digelar di Yogyakarta pada 1 - 5 Juni 2009 mendatang.
Sementara itu, Festival Pendidikan Khusus (PK) dan Pendidikan Layanan Khusus (PLK) di DIY telah digelar sebanyak lima kali. Tahun ini merupakan giliran Kota Yogyakarta sebagai tempat penyelenggaraan, setelah sebelumnya digelar di Kabupaten Gunung Kidul, Sleman, Kulon Progo, dan Bantul.
Selain tujuan di atas, kegiatan dengan tema "Indahnya Kebersamaan, Bersama Anda Saya Bisa dan Mendapat Peluang Emas" ini juga ditujukan agar tetap terjalin kerjasama dan komunikasi dalam pengembangan Pendidikan Luar Biasa di Propinsi DIY.
Dalam kegiatan ini, 1032 siswa dari Sekolah Luar Biasa (SLB), Sekolah Inklusi, dan Sekolah Program CI BI akan mengikuti sejumlah lomba yang digelar di Balai Kota Yogyakarta, Stadion Mandala Krida, dan Taman pintar mulai pukul 10.00 WIB.
Lomba Seni Siswa digelar di Taman Pintar dengan menghadirkan lomba lomba melukis, lomba menyanyi, lomba cipta dan baca puisi, lomba mengarang dan bercerita, lomba disain grafis dan komputer, serta lomba pantomim. Selain lomba-lomba tersebut, olimpiade sains matematika dan IPA juga digelar di Taman Pintar.
Untuk Gebyar Pendidikan Khusus (PK) dan Pendidikan Layanan Khusus (PLK) juga dilaksanakan di Taman Pintar dengan menghadirkan lomba modelling, cerdas cermat, merakit robot, dan pidato Bahasa Inggris bagi siswa CI BI dan PLK. Bagi siswa Inklusi, akan digelar lomba bermain gitar dan tari tradisional.
Sedangakan untuk lomba olah raga di Mandala Krida akan diisi dengan lomba atletik (lari, lompat , dan lempat cakram), balap kursi, bulu tangkis, catur, tenis meja, dan gerak jalan dari Balaikota hingga Taman Pintar.
sumber:http://gudeg.net/news/2009/04/4444/Penyandang-Cacat-Juga-Punya-K

Tidak ada komentar:
Posting Komentar